Dalam situasi yang kian kompleks, Trump dianggap terjebak dalam kebijakan yang ia bangun sendiri. Konflik dengan Iran dinilai berkembang di luar perkiraan awal pemerintahannya, sehingga menyulitkan Gedung Putih menentukan arah langkah berikutnya.
Pengamat Timur Tengah, Aaron David Miller, menilai kondisi ini menjadi sumber tekanan terbesar bagi Trump. Pemerintah AS disebut gagal mengantisipasi berbagai kemungkinan respons dari Iran, yang menganggap konflik ini sebagai ancaman eksistensial.
Senada, mantan Duta Besar AS John Bass menyoroti lemahnya perencanaan skenario. Menurutnya, Washington tidak cukup mempersiapkan berbagai kemungkinan jika konflik berkembang di luar kendali.
Sementara itu, analis komunikasi politik Brett Bruen menilai Trump kini kesulitan menguasai siklus pemberitaan seperti sebelumnya. Ketidakjelasan tujuan perang serta minimnya penjelasan kepada publik membuat pesan yang disampaikan kehilangan daya tarik.
Di lapangan, ketegangan juga terus meningkat. Salah satu fasilitas nuklir utama Iran di Natanz kembali menjadi sasaran serangan pada pekan awal konflik, dengan sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa selain tantangan militer, pemerintahan Trump juga menghadapi ujian besar dalam membangun narasi yang mampu meyakinkan publik, baik di dalam negeri maupun di tingkat global.
Editor : Uways Alqadrie