Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Lebaran di Sekolah Hutan: Ketupat Jadi Media Latih Ketangkasan Bayi Orangutan di Berau

Bayu Rolles • Rabu, 25 Maret 2026 | 20:01 WIB

Ketupat berisi potongan buah dan madu yang digantung di sekolah hutan. Metode ini memaksa satwa untuk berpikir dan bergerak aktif layaknya mencari makanan di pucuk pohon tertinggi di rimba. (IST)
Ketupat berisi potongan buah dan madu yang digantung di sekolah hutan. Metode ini memaksa satwa untuk berpikir dan bergerak aktif layaknya mencari makanan di pucuk pohon tertinggi di rimba. (IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Ketupat kerap lekat dengan Lebaran. Di Kaltim, tradisi sajian anyaman daun kelapa itu tak hanya tersaji di meja makan, namun juga hadir di dua Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) yang ada di Berau.

Di PPS Long Sam, Kampung Merasa, Berau yang dikelola Conservation Action Network (CAN). Ketupat-ketupat itu tidak tersaji di atas piring, melainkan digantung di antara tali dan dahan. Yang mencicipi bukan manusia, tapi untuk empat bayi orangutan serta Owa Kalimantan yang menjalani rehabilitasi di sana.

Paulinus Kristanto, pendiri and direktur CAN, menyebut hal itu bagian dari enrichment atau cara sederhana bagi para primata untuk mendobrak batas fisik dan kognitifnya. "Ketupat jadi metode pengayaan merangsang bayi-bayi orangutan bergerak aktif mencari makanan. Baik untuk memanjat, bergelantungan, hingga mengoordinasikan tangan dan kakinya," ucapnya dalam rilis resmi, Rabu, 25 Maret 2026.

Baca Juga: Kebut Jalan Kubar-Mahulu, Pemprov Kaltim Siapkan Rp 90 Miliar untuk Ruas Tering–Ujoh Bilang di 2026

Di alam liar, buah-buah terbaik sering berada di pucuk tertinggi, dan tidak semua bisa dijangkau tanpa usaha. Setiap kali mereka berhasil memecahkan tantangan yang ada di sekolah hutan, kata Paulinus, para bayi orangutan itu selangkah lebih dekat untuk kembali jadi penguasa rimba yang mandiri. "Agar mereka kembali ke fitrah alaminya sebagai penghuni hutan," sebutnya.

Hal serupa juga terjadi di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP). Manager BORA, Widi Nursanti, menerangkan lewat enrichment yang diberikan, para orangutan yang menjalani rehabilitasi di PPS mereka bisa lebih aktif berpikir dan belajar dalam mencari makanan.

"Cara-cara sederhana dengan sedikit kreativitas memperkaya variasi penyajian dan media yang dipakai untuk makanannya. Sehingga para orangutan tidak jenuh," katanya.

Ketupat-ketupat yang mereka tempatkan di sekolah hutan berisi potongan buah-buahan, selai, dan madu yang mampu merangsang indra penciuman dan melatih kreativitas fisik dalam mencari berbagai jenis makanan. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#orangutan #berau