KALTIMPOST.ID, WASHINGHTON – Antrean pemeriksaan keamanan di sejumlah bandara Amerika Serikat mencapai tingkat terburuk dalam sejarah. Waktu tunggu bahkan dilaporkan bisa mencapai lebih dari 4,5 jam setelah ratusan petugas keamanan berhenti bekerja di tengah krisis pendanaan pemerintah.
Badan Keamanan Transportasi Amerika Serikat atau Transportation Security Administration (TSA) memperingatkan bahwa operasional bandara kini berada di bawah tekanan berat. Hal itu terjadi karena penutupan sebagian anggaran Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) yang telah berlangsung selama beberapa pekan.
Pelaksana tugas Administrator TSA Ha Nguyen McNeill mengatakan lebih dari 480 petugas keamanan transportasi telah meninggalkan pekerjaan mereka sejak krisis anggaran terjadi.
Baca Juga: Prabowo Pasang Badan, Program Makan Bergizi Gratis Jalan Terus
“Kondisi ini menyebabkan waktu tunggu terpanjang dalam sejarah TSA. Beberapa penumpang bahkan harus menunggu lebih dari 4,5 jam,” kata McNeill kepada anggota parlemen pada 25 Maret.
Sejumlah bandara besar yang terdampak antara lain Atlanta, Houston, dan New York. Antrean panjang terlihat mengular dari area pemeriksaan keamanan hingga ke terminal, bahkan dalam beberapa kasus meluber ke luar gedung bandara.
Situasi tersebut juga ramai di media sosial. Video yang beredar memperlihatkan antrean panjang di Bandara LaGuardia, New York, pada 25 Maret. Banyak penumpang mengeluhkan potensi ketinggalan pesawat karena lamanya proses pemeriksaan keamanan.
Biasanya waktu tunggu keamanan dipublikasikan melalui situs resmi bandara. Namun karena situasi berubah cepat, pembaruan informasi tersebut untuk sementara dihentikan.
Baca Juga: Panic Buying BBM di Kalbar Meledak! Tito Karnavian Perintahkan Cabut Surat Edaran Pembatasan
Di Kongres, anggota parlemen dari Partai Republik dan Demokrat saling menekan pemerintah terkait dampak penutupan anggaran ini. Partai Republik menilai kebuntuan anggaran melemahkan keamanan nasional dan membebani petugas di lapangan. Sementara Demokrat mengkritik langkah pemerintah yang melibatkan agen Immigration and Customs Enforcement (ICE) untuk membantu operasional di bandara.
McNeill mengakui krisis tenaga kerja semakin memburuk karena banyak petugas memilih keluar atau tidak masuk kerja setelah gaji mereka tertunda.
Di beberapa bandara besar, hingga 40 sampai 50 persen petugas keamanan dilaporkan absen pada hari-hari tertentu. Akibatnya, TSA harus menggabungkan jalur pemeriksaan dan mengurangi operasional sehingga antrean semakin panjang.
Sebagai langkah darurat, agen ICE kini membantu tugas non-teknis seperti pemeriksaan dokumen perjalanan penumpang agar petugas TSA bisa fokus pada pemeriksaan keamanan utama.
Namun kebijakan ini juga memicu pertanyaan dari sejumlah anggota parlemen yang meragukan apakah agen ICE memiliki pelatihan yang cukup untuk menjalankan peran tersebut.
Kebuntuan anggaran yang dimulai sejak 14 Februari masih belum menemukan solusi di Washington. Jika kondisi ini terus berlanjut, TSA memperingatkan stabilitas operasional bandara akan semakin sulit dipulihkan, terutama menjelang lonjakan perjalanan musim panas dan Piala Dunia FIFA 2026.
Editor : Thomas Priyandoko