KALTIMPOST.ID-Lonjakan kunjungan ke Ibu Kota Nusantara (IKN) sepanjang Maret 2026 mendapat sorotan dari pelaku industri pariwisata.
Di tengah euforia 143 ribu kunjungan yang tercatat, kalangan travel agent melihat fenomena ini sebagai sinyal kuat sekaligus tantangan serius bagi pengembangan destinasi ke depan.
Ketua Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Kaltim Syarifuddin Tangalindo menilai tingginya angka kunjungan tidak terlepas dari faktor kebaruan IKN di mata publik.
“Trennya memang sekarang ke IKN. Karena ini hal baru bagi masyarakat. Mayoritas pengunjung juga masih didominasi warga Kaltim sendiri, karena ada rasa bangga terhadap ibu kota baru ini,” ujarnya, Jumat (27/3).
Ia mengakui, meskipun sempat terdengar kunjungan dari mancanegara seperti Taiwan, secara komposisi pasar wisata, pergerakan masih ditopang wisatawan domestik, khususnya dari wilayah Kalimantan.
Menurutnya, fenomena ini sejalan dengan harapan lama pelaku pariwisata, yakni menjadikan IKN sebagai magnet utama yang mampu menggerakkan destinasi di sekitarnya. Namun di sisi lain, daya tarik IKN saat ini berdiri kuat sebagai destinasi tunggal.
“Tidak bisa dipungkiri, IKN sekarang punya daya tarik sendiri. Teman-teman travel bahkan sempat kewalahan karena permintaan yang begitu tinggi, termasuk setelah Lebaran ini pun masih banyak yang ingin berkunjung,” katanya.
TINGKATKAN SDM LOKAL
Salah satu aspek krusial yang perlu segera dibenahi adalah sumber daya manusia (SDM), khususnya masyarakat lokal di sekitar kawasan IKN.
“Kita tidak ingin masyarakat lokal hanya jadi penonton. Mereka harus disiapkan, ditingkatkan kapasitasnya, terutama dalam hal hospitality dan pelayanan,” katanya.
Ia mendorong pemerintah untuk memperkuat pelatihan bagi masyarakat, mulai dari pemandu wisata, pengelolaan homestay, hingga pengemasan paket wisata. Konsep homestay bahkan dinilai menjadi solusi realistis di tengah keterbatasan hotel.
“Tidak harus semua hotel. Homestay justru bisa jadi kekuatan. Tapi pelayanannya harus bagus. Ibaratnya homestay dengan layanan bintang lima,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan ini tidak hanya memperluas kapasitas akomodasi, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi langsung dirasakan masyarakat lokal.
Syarifuddin menegaskan, kesiapan SDM akan menjadi kunci apakah IKN mampu mempertahankan kunjungan wisatawan dalam jangka panjang, bukan sekadar mengandalkan rasa penasaran.
“Orang datang sekarang karena ingin lihat perubahan. Tapi supaya mereka kembali lagi, harus ada pengalaman yang menyenangkan. Itu kuncinya,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.