Informasi yang beredar menyebutkan, dampak serangan cukup serius. Selain merusak pesawat bernilai strategis tinggi, lebih dari 10 personel militer AS dilaporkan mengalami luka-luka, dua di antaranya dalam kondisi berat. Hingga kini, pihak Komando Pusat AS belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut.
Pesawat E-3 AWACS bukan sekadar alat tempur biasa. Sistem ini berfungsi sebagai “mata dan otak” operasi udara, mampu mendeteksi ancaman hingga ratusan kilometer serta mengatur pergerakan jet tempur, misi pengisian bahan bakar di udara, hingga koordinasi serangan.
Dalam skenario konflik kawasan, peran AWACS sangat krusial, termasuk untuk memantau pergerakan drone, mengarahkan jet tempur generasi terbaru, hingga mengendalikan sistem pertahanan udara. Kehilangan satu unit saja dinilai dapat mengganggu keseimbangan operasi militer.
Saat ini, jumlah pesawat E-3 milik AS terbilang terbatas. Dari total armada yang tersisa, sebagian besar sudah berusia tua karena masih menggunakan platform Boeing 707 yang produksinya dihentikan sejak awal 1990-an. Sekitar enam unit di antaranya ditempatkan di kawasan Timur Tengah.
Kerusakan yang terjadi pada pesawat yang terdampak disebut cukup parah dan berpotensi tidak bisa dioperasikan kembali. Jika benar demikian, jumlah armada aktif akan semakin berkurang dan berdampak pada kesiapan tempur secara keseluruhan.
Di sisi lain, program pengganti AWACS, yakni E-7 Wedgetail, masih menghadapi keterlambatan. Proyeksi pengiriman unit baru diperkirakan baru terealisasi dalam beberapa tahun ke depan.
Pengamat militer menilai, insiden ini menjadi peringatan serius bagi AS untuk mempercepat modernisasi alutsista. Tanpa pengganti yang sepadan dalam waktu dekat, kemampuan pengawasan dan kendali udara bisa mengalami penurunan signifikan di tengah situasi geopolitik yang kian memanas.
Editor : Uways Alqadrie