KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Perbedaan tingkat kesejahteraan antara wilayah perkotaan dan perdesaan di Kalimantan Timur masih terlihat jelas. Tercermin dari pola pengeluaran masyarakat berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025. Pola konsumsi menjadi salah satu indikator penting untuk membaca kondisi ekonomi masyarakat.
“Untuk mendapatkan indikator kesejahteraan masyarakat, informasi mengenai pengeluaran untuk konsumsi penduduk lebih sering digunakan dibandingkan informasi tentang pendapatan karena informasi pendapatan penduduk cenderung underestimate,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai.
Data menunjukkan, rata-rata pengeluaran masyarakat di perkotaan mencapai Rp2.243.976 per kapita per bulan. Angka yang lebih tinggi dibandingkan perdesaan yakni hanya sebesar Rp1.826.286.
Baca Juga: BPS Catat 4.986 Perjalanan Ke Luar Negeri dari Kaltim pada Januari 2026
Perbedaan tidak hanya terlihat dari jumlah pengeluaran, tetapi juga komposisinya. Masyarakat perkotaan cenderung mengalokasikan lebih banyak anggaran untuk kebutuhan nonmakanan. Dipengaruhi oleh beragam pilihan konsumsi, mulai dari akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga hiburan.
Sebaliknya, dijelaskan Mas’ud masyarakat di perdesaan masih memprioritaskan kebutuhan makanan. Meski selisihnya tidak terlalu besar, porsi pengeluaran untuk makanan tetap lebih dominan dibandingkan nonmakanan.
"Secara rinci, di perkotaan rata-rata pengeluaran makanan Rp965.884 dan nonmakanan Rp1.278.092. Sementara di perdesaan, pengeluaran makanan tercatat Rp933.746 dan nonmakanan Rp892.540," bebernya.
Baca Juga: Gini Ratio Kaltim Turun ke 0,310, BPS Sebut Ketimpangan Masih Rendah
Mas’ud menjelaskan, kondisi itu mencerminkan tahapan kesejahteraan masyarakat. Ketika pendapatan masih terbatas, kebutuhan pangan menjadi prioritas utama. Seiring meningkatnya pendapatan, pola belanja mulai bergeser ke kebutuhan lain di luar makanan.
Selain itu, perbedaan akses dan fasilitas turut memengaruhi pola konsumsi. Wilayah perkotaan memiliki lebih banyak pilihan dalam membelanjakan pendapatan, sementara masyarakat desa cenderung fokus pada kebutuhan pokok. (riz)
Editor : Muhammad Rizki