KALTIMPOST.ID, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa pemerintahannya telah mulai mengambil langkah-langkah strategis untuk menguasai Selat Hormuz, jalur pelayaran internasional yang sangat penting, dalam konflik yang terus memanas dengan Iran. Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu titik paling krusial di dunia bagi perdagangan minyak, dan penguasaan jalur ini dianggap vital bagi keamanan energi global.
Dalam wawancara yang dilakukan pada Minggu (29/3) bersama Channel 14 Israel, Trump ditanya apakah AS memiliki kemampuan untuk mengendalikan jalur pelayaran strategis tersebut. Ia menegaskan, "Ya, tentu saja. Itu sudah terjadi." Pernyataan ini menimbulkan perhatian internasional, mengingat ketegangan yang terus meningkat di kawasan Teluk Persia.
Trump juga menekankan pentingnya koordinasi erat dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dalam menghadapi Iran. Ia mengatakan, "Koordinasi kami sangat erat. Kami memiliki hubungan yang baik. Tak bisa lebih baik lagi." Hubungan antara AS dan Israel dianggap strategis dalam konteks keamanan regional, terutama terkait upaya untuk menekan pengaruh Iran di Timur Tengah.
Lebih lanjut, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran sejatinya menginginkan tercapainya kesepakatan diplomatik. "Saya pikir mereka sangat ingin melakukannya. Siapa pun akan menginginkan kesepakatan jika Anda sedang berada di posisi yang tertekan dan dihancurkan, bukan?" ujarnya. Pernyataan ini menegaskan posisi AS bahwa tekanan militer dan diplomatik dapat menjadi alat untuk mendorong Iran ke meja perundingan.
Baca Juga: Demo Besar Anti Trump Meledak di AS, Aksi “No Kings” Guncang New York hingga Washington
Ketegangan di wilayah ini sudah meningkat sejak 28 Februari, ketika AS dan Israel melakukan serangan udara terhadap target-target militer di Iran. Serangan tersebut menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei. Tindakan militer ini memicu balasan dari Iran, yang meluncurkan serangan dengan drone dan rudal ke Israel, serta menargetkan sejumlah wilayah yang menampung aset militer AS di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk lainnya.
Konflik yang semakin memanas ini menjadi sorotan dunia, karena tidak hanya melibatkan dua kekuatan regional, tetapi juga berdampak terhadap stabilitas ekonomi global, terutama harga minyak dan jalur perdagangan internasional. Para analis menekankan bahwa penguasaan Selat Hormuz akan menjadi kunci dalam strategi militer dan diplomasi di kawasan Teluk Persia.
Situasi ini memicu kekhawatiran di kalangan negara-negara Teluk dan komunitas internasional, karena setiap eskalasi militer dapat memicu krisis yang lebih besar. AS menegaskan kesiapan militernya untuk mengamankan jalur pelayaran tersebut, sementara Iran menekankan bahwa setiap upaya penguasaan asing di wilayahnya akan mendapat perlawanan.
Dengan demikian, klaim Trump tentang penguasaan Selat Hormuz menjadi indikator meningkatnya ketegangan strategis di Timur Tengah, sekaligus menggarisbawahi pentingnya koordinasi antara AS dan sekutunya, termasuk Israel, dalam menghadapi Iran. Dunia internasional kini terus memantau perkembangan ini, mengingat potensi dampak besar terhadap keamanan regional dan ekonomi global.