KALTIMPOST.ID, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran semakin dekat. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan militer yang ditandai dengan serangan udara dan ancaman invasi darat dari pihak AS.
Trump bahkan menilai telah terjadi perubahan kepemimpinan secara de facto di Iran setelah banyak tokoh penting negara tersebut tewas dalam konflik yang berlangsung selama sebulan terakhir. Ia menyebut pihak yang kini dihadapi AS lebih rasional dibanding sebelumnya.
Menurut Trump, respons Iran terhadap proposal gencatan senjata yang diajukan AS juga cukup positif. Ia mengklaim sebagian besar poin dalam proposal tersebut telah disetujui oleh Teheran, sehingga peluang tercapainya kesepakatan dinilai semakin besar.
Namun, pernyataan tersebut mendapat tanggapan berbeda dari pihak Iran. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, justru menuding Amerika Serikat menggunakan diplomasi sebagai kedok untuk menutupi rencana aksi militer. Ia memperingatkan bahwa Iran telah bersiap menghadapi kemungkinan serangan darat dari pasukan AS.
Ghalibaf menegaskan bahwa pasukan Iran siap memberikan perlawanan keras jika invasi benar-benar terjadi. Ia bahkan menyampaikan ancaman tegas terhadap tentara AS dan sekutunya di kawasan.
Baca Juga: Trump Klaim AS Sudah Kuasai Selat Hormuz, Koordinasi Erat dengan Netanyahu, Iran Diprediksi Terpaksa Teken Kesepakatan
Kekhawatiran Iran semakin menguat setelah muncul laporan bahwa Pentagon telah menyiapkan rencana operasi darat, termasuk potensi serangan di sekitar Selat Hormuz. Selain itu, kapal serbu amfibi USS Tripoli yang membawa ribuan marinir AS juga telah tiba di kawasan Timur Tengah.
Di lapangan, situasi terus memanas. Serangan udara terhadap fasilitas listrik Iran menyebabkan pemadaman besar di Teheran dan wilayah sekitarnya. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan ke Kuwait dan Arab Saudi.
Serangan tersebut mengakibatkan korban jiwa, termasuk seorang pekerja di Kuwait. Sementara itu, Arab Saudi mengklaim berhasil menggagalkan sejumlah serangan rudal yang mengarah ke wilayahnya.
Konflik yang meluas ini telah menimbulkan ribuan korban. Di Lebanon, lebih dari seribu orang dilaporkan tewas sejak awal Maret, termasuk anak-anak. Di Iran, ribuan korban juga tercatat, dengan sebagian besar merupakan warga sipil.
Korban juga jatuh di pihak Israel, negara-negara Teluk, serta pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di kawasan.
Di tengah situasi yang semakin tegang, Pakistan mencoba mengambil peran sebagai mediator untuk menjembatani dialog antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah Pakistan menyatakan kesiapan mereka memfasilitasi pembicaraan damai, mengingat hubungan baik dengan kedua belah pihak.