KALTIMPOST.ID, JAKARTA - Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kian merembet ke sektor teknologi. Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melontarkan ancaman serius dengan menyebut sejumlah raksasa teknologi asal Negeri Paman Sam sebagai target potensial serangan.
Nama-nama besar seperti Google, Apple, hingga Meta masuk dalam daftar incaran. Total ada 18 perusahaan teknologi yang disebut bakal menjadi sasaran jika kembali terjadi pembunuhan terhadap pemimpin Iran.
Dalam pernyataan resminya, IRGC memperingatkan bahwa serangan bisa terjadi kapan saja sebagai bentuk balasan. Bahkan, karyawan perusahaan-perusahaan tersebut diminta menjauh dari kantor demi keselamatan.
Ancaman ini muncul di tengah memanasnya konflik militer di Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan meningkatkan tekanan militer bersama Israel terhadap Iran, termasuk penambahan pasukan di kawasan tersebut.
Iran menuding perusahaan teknologi AS ikut terlibat dalam operasi militer, terutama melalui pemanfaatan kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini disebut digunakan untuk mengolah data intelijen, menentukan target, hingga mengarahkan serangan secara lebih presisi.
Baca Juga: Minyak Dunia Tembus Rekor Baru di Tengah Perang AS-Iran, Pasar Asia Rontok dan Ekonomi Tertekan
Sejumlah laporan menyebut perang yang berlangsung saat ini menjadi salah satu konflik pertama yang sangat bergantung pada teknologi AI.
Meski demikian, pihak militer AS menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, bukan sepenuhnya otomatis.
Daftar target yang disebut IRGC tak hanya perusahaan teknologi murni, tetapi juga mencakup sektor lain seperti Tesla, Boeing, hingga Nvidia.
Editor : Uways Alqadrie