KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Gejolak krisis energi global yang dipicu konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai berdampak luas, termasuk pada lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara.
Di tengah situasi tersebut, Dewan Energi Nasional (DEN) meminta masyarakat Indonesia tidak panik atau melakukan pembelian berlebihan.
Meski tekanan terhadap fiskal semakin berat akibat kenaikan harga minyak dunia, pemerintah memastikan kondisi pasokan BBM nasional tetap terkendali.
Baca Juga: Harga BBM Subsidi dan Non-Subsidi Tetap, Pertamina Ungkap Pemicu Antrean di SPBU Kaltim
Cadangan energi Indonesia disebut masih berada pada level aman.
Anggota DEN, M Kholid Syeirazi, menegaskan bahwa ketahanan energi Indonesia saat ini relatif lebih stabil dibandingkan sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara yang sudah lebih dulu mengalami lonjakan harga signifikan.
Ia memaparkan, harga BBM di beberapa negara ASEAN telah meningkat tajam. Di Vietnam, harga melonjak dari Rp12.700 per liter menjadi Rp19.100 per liter.
Thailand juga mengalami kenaikan dari Rp16.500 menjadi Rp24.000 per liter. Sementara di Laos, harga BBM bahkan telah menembus Rp30.200 per liter.
Menurut Kholid, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia masih berada dalam posisi yang lebih baik karena mampu menahan lonjakan harga ekstrem seperti yang terjadi di negara lain.
“Masyarakat tidak perlu panik. Tidak ada alasan untuk melakukan pembelian berlebihan. Situasi kita jauh lebih terkendali dibandingkan negara lain,” ujarnya di Jakarta.
Baca Juga: Terdakwa Penipuan Haji di Samarinda Ajukan Keberatan, Sebut Pihak Ketiga DPO Sebagai Aktor Utama
Daftar Harga BBM ASEAN (Per Liter)
Indonesia: relatif stabil (tidak ada kenaikan signifikan)
Vietnam: Rp19.100 (dari sebelumnya Rp12.700)
Thailand: Rp24.000 (dari sebelumnya Rp16.500)
Laos: Rp30.200 (dari sebelumnya Rp22.700)
Editor : Uways Alqadrie