KALTIMPOST.ID, WASHINGTON – Donald Trump kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran setelah seorang penerbang militer Amerika Serikat berhasil diselamatkan dari wilayah Iran.
Presiden AS itu bahkan mengancam akan menghancurkan infrastruktur sipil penting milik Teheran jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Ancaman tersebut disampaikan Trump pada 5 April, ketika ia menuntut Iran membuka kembali jalur pelayaran di kawasan Teluk dan menghentikan perang yang tengah mengguncang Timur Tengah.
Trump juga menghidupkan kembali peringatannya tentang kemungkinan serangan udara terhadap pembangkit listrik dan jembatan di Iran.
Pernyataan itu muncul setelah ia merayakan keberhasilan misi penyelamatan seorang perwira sistem persenjataan dari jet tempur McDonnell Douglas F-15E Strike Eagle yang jatuh di wilayah Iran.
Foto-foto yang dirilis Iran memperlihatkan puing beberapa pesawat. Meski demikian, Teheran tidak secara langsung membantah bahwa pasukan khusus Amerika berhasil mengevakuasi pilot tersebut, yang sebelumnya bersembunyi di daerah pegunungan sambil menunggu tim penyelamat.
Perang di kawasan Timur Tengah sendiri meletus pada 28 Februari setelah serangan mematikan oleh AS dan Israel ke Teheran. Konflik itu kemudian meluas ke berbagai negara dan mengguncang perekonomian global.
Serangan rudal Iran dilaporkan menghantam sejumlah kota di Israel serta infrastruktur ekonomi di kawasan Teluk, yang memicu lonjakan harga energi dunia.
Selain itu, Iran juga disebut-sebut memblokir Selat Hormuz, yang merupakan jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dan gas dunia. Kondisi ini membuat Trump melontarkan peringatan keras kepada Teheran agar segera membuka jalur tersebut.
Ia bahkan memberi tenggat waktu baru kepada Iran hingga Selasa malam (8 April) untuk memenuhi tuntutan tersebut.
“Jika mereka tidak melakukan sesuatu sampai Selasa malam, mereka tidak akan punya pembangkit listrik lagi dan tidak ada jembatan yang masih berdiri,” kata Trump kepada Wall Street Journal.
Baca Juga: Daftar Lengkap Banjir Tangsel Hari Ini: Puluhan Kawasan Terendam, Longsor Terjadi di 13 Titik
Iran dan Rusia Mengecam
Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari Iran. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Trump mengikuti arahan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
Menurutnya, langkah Washington justru menyeret Amerika Serikat dan kawasan Timur Tengah ke dalam konflik yang lebih luas.
Sekutu Iran, Rusia, juga mengecam ancaman tersebut. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mendesak Washington meninggalkan “bahasa ultimatum” dan kembali ke meja perundingan.
Operasi Penyelamatan di Iran
Media AS melaporkan pilot yang diselamatkan itu membawa pistol, suar darurat, dan perangkat komunikasi aman untuk berkoordinasi dengan tim penyelamat.
Dalam operasi tersebut, dua pesawat yang seharusnya mengevakuasi pilot terjebak di pangkalan terpencil di Iran dan akhirnya dihancurkan agar tidak jatuh ke tangan militer Iran.
Pasukan AS kemudian menggunakan tiga pesawat angkut lainnya untuk mengevakuasi pilot beserta tim penyelamat keluar dari wilayah Iran.
Militer Iran mengklaim berhasil menghancurkan empat pesawat Amerika yang terlibat dalam operasi tersebut dan menyebut serangan itu menggunakan bandara terbengkalai di Provinsi Isfahan selatan.
Serangan Meluas di Timur Tengah
Ketegangan juga meningkat di kawasan Teluk. Serangan Iran pada 6 April dilaporkan merusak fasilitas sipil di Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait.
Sementara itu di front lain, kelompok bersenjata Hezbollah yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Israel dari wilayah Lebanon. Israel membalas dengan memperluas operasi militernya di Lebanon selatan.
Sebuah rudal yang ditembakkan dari Iran juga dilaporkan menghantam bangunan permukiman di kota Haifa di Israel utara, melukai empat orang.
Konflik yang meluas ini juga membayangi perayaan Paskah umat Kristen di berbagai wilayah Timur Tengah. Di Church of the Holy Sepulchre di Yerusalem, akses pengunjung dibatasi oleh otoritas Israel karena situasi keamanan.
Dalam pesan Paskahnya di Vatikan, Paus Leo XIV menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk memilih jalan damai dan menghentikan perang yang telah menyebabkan “kematian ribuan orang”.