KALTIMPOST.ID-Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan menunda rencana serangan terhadap Iran selama dua pekan.
Keputusan itu diambil hanya beberapa saat sebelum tenggat ultimatum yang sebelumnya ia tetapkan.
Penundaan ini muncul setelah mediasi dari Pakistan yang meminta waktu tambahan untuk membuka jalur diplomasi.
Trump menyatakan bersedia menangguhkan serangan dengan syarat Iran membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute minyak terpenting di dunia.
Menurut Trump, Iran telah mengirimkan rencana negosiasi berisi 10 poin yang dinilainya cukup “layak” untuk dibahas dalam perundingan.
Iran Jamin Jalur Hormuz Dibuka Sementara
Menanggapi keputusan tersebut, pemerintah Iran menyatakan siap menjamin keamanan pelayaran di Selat Hormuz selama dua minggu.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan jalur tersebut akan dibuka dengan koordinasi militer Iran dan tetap mempertimbangkan faktor teknis di kawasan tersebut.
Selama masa jeda itu, Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan memulai pembicaraan damai pada 10 April di Islamabad.
Dewan Keamanan Nasional Iran juga menyatakan perundingan tersebut direncanakan berlangsung dua minggu, namun bisa diperpanjang jika kedua pihak sepakat.
Harga Minyak Langsung Turun
Pengumuman Trump langsung memicu reaksi pasar global. Harga minyak yang sebelumnya melonjak akibat konflik Timur Tengah segera turun tajam setelah kabar penundaan serangan.
Minyak mentah AS (WTI) turun sekitar 16% menjadi sekitar US$94,85 per barel, bahkan sempat menyentuh US$91,05 per barel.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur vital bagi distribusi minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini sejak akhir Februari telah meningkatkan kekhawatiran pasar energi global.
Ketegangan AS–Iran Masih Tinggi
Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap berbagai infrastruktur di Iran. Serangan itu menargetkan fasilitas yang diklaim terkait kemampuan militer Iran.
Di sisi lain, Iran juga melakukan serangan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi basis militer AS.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan konflik yang lebih luas di Timur Tengah.
Meski begitu, penundaan serangan dan rencana perundingan damai membuka peluang baru bagi penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.(*)