KALTIMPOST.ID, JAKARTA- Langkah cepat diambil Iran dengan kembali menutup jalur vital Selat Hormuz, hanya berselang kurang dari sehari setelah kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat diumumkan. Kebijakan ini dipicu eskalasi baru di kawasan, menyusul serangan besar Israel ke wilayah Lebanon.
Penutupan jalur energi dunia itu disebut sebagai respons langsung atas rentetan serangan udara Israel yang terjadi dalam waktu singkat. Dilaporkan, lebih dari 100 serangan dilancarkan hanya dalam hitungan menit, memicu korban besar di pihak sipil.
Baca Juga: Prabowo Umumkan Biaya Haji 2026 Turun Rp2 Juta Meski Harga Avtur Naik, Ini Rinciannya
Data dari otoritas setempat menyebut sedikitnya 254 orang tewas, sementara lebih dari seribu lainnya mengalami luka-luka. Kondisi ini memperburuk situasi kemanusiaan di Lebanon yang sebelumnya sudah berada dalam tekanan akibat konflik berkepanjangan.
Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, menyebut negaranya tengah menghadapi eskalasi berbahaya. Rumah sakit dilaporkan kewalahan menampung korban, sementara ambulans terus berdatangan membawa warga yang terluka.
Di tengah kondisi tersebut, Iran mengambil sikap tegas dengan menutup kembali Selat Hormuz, yang sebelumnya sempat dibuka sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Mutasi TNI AD April 2026, Ini Daftar Pangdam Baru dan Kapuskesad yang Resmi Dilantik
Penutupan ini berpotensi mengganggu distribusi energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dunia. Langkah Iran sekaligus menjadi sinyal bahwa situasi kawasan masih sangat labil, meski upaya diplomasi tengah dijalankan.
Editor : Uways Alqadrie