KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Sejumlah penyakit ternak masih menjadi perhatian serius di Kalimantan Timur. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), hingga Jembrana terus dipantau karena berpotensi menimbulkan kerugian bagi peternak. Fungsional Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Maulana Firmansyah menjelaskan, masing-masing penyakit memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda. PMK, misalnya, dikenal sebagai penyakit dengan tingkat penularan sangat tinggi.
“Kalau di kandang ada 20 ekor, kena satu PMK biasanya 20 ini kena semua,” ujarnya. Selain melalui kontak langsung, virus PMK juga dapat menyebar melalui udara, sehingga mempercepat penyebaran antar ternak dalam satu lokasi. Sementara itu, Lumpy Skin Disease (LSD) memiliki ciri khas berupa benjolan di sekujur tubuh ternak. Penyakit tersebut umumnya menyebar melalui perantara serangga seperti lalat dan nyamuk.
“Kalau LSD itu benjol-benjol di sekujur tubuh. Penularannya lewat serangga. Kelihatan jelas ciri fisiknya,” jelasnya. Adapun penyakit Jembrana menyerang sistem kekebalan tubuh sapi, khususnya sapi Bali. Dampaknya cukup serius karena menurunkan imunitas secara drastis.
“Jembrana itu menyerang imun, jadi seperti HIV pada manusia,” katanya. Kasus penyakit itu sempat ditemukan di beberapa wilayah di Kaltim, seperti Sangkulirang, Sangatta, hingga Loa Kulu. Namun, tingkat kematian saat ini cenderung lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Menurut Maulana, perbedaan karakter penyakit itu menuntut penanganan yang berbeda pula. Oleh karena itu, peternak diimbau untuk lebih peka terhadap gejala yang muncul pada ternak. (riz)
Editor : Muhammad Rizki
Sumber : Kaltim Post