Cakupan Vaksinasi Ternak Kaltim Menurun, DPKH Sesalkan Sikap Peternak yang Enggan Melapor dan Vaksin

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Minggu, 12 April 2026 | 21:44 WIB
CEGAH SEBELUM TERJANGKIT: Penurunan partisipasi vaksinasi pada tahun 2025 mengakibatkan peningkatan laporan kasus penyakit ternak di Kalimantan Timur. DPKH mengimbau peternak untuk proaktif melapor dan mengikuti program vaksinasi guna menghindari kerugian ekonomi akibat kematian ternak. ( DOK/KP)
CEGAH SEBELUM TERJANGKIT: Penurunan partisipasi vaksinasi pada tahun 2025 mengakibatkan peningkatan laporan kasus penyakit ternak di Kalimantan Timur. DPKH mengimbau peternak untuk proaktif melapor dan mengikuti program vaksinasi guna menghindari kerugian ekonomi akibat kematian ternak. ( DOK/KP)

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Upaya pengendalian penyakit ternak di Kalimantan Timur tidak hanya menghadapi tantangan teknis, tetapi juga persoalan kesadaran peternak. Rendahnya partisipasi dalam vaksinasi dan pelaporan kasus masih menjadi kendala di lapangan.

Dijelaskan Fungsional Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim Maulana Firmansyah, masih banyak peternak yang menolak vaksinasi meski sudah diberikan pemahaman oleh petugas. “Ditawarkan sama petani-petani enggak ada yang mau,” ujarnya.

Dia mencontohkan kejadian di wilayah Sangatta, tepatnya di Kaubun, di mana petugas telah berupaya melakukan pendekatan kepada peternak. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil karena peternak tetap enggan melakukan vaksinasi. Kondisi itu justru berdampak pada meningkatnya kasus penyakit di wilayah tersebut. Kesadaran peternak baru muncul setelah ternaknya terserang penyakit. “Setelah kena baru sadar pentingnya,” katanya.

Baca Juga: Mengenal Gejala PMK, LSD, dan Jembrana: Ancaman Serius bagi Peternak Sapi di Kalimantan Timur

Selain penolakan vaksin, persoalan lain yang muncul adalah minimnya pelaporan kasus ternak sakit. Banyak peternak yang tidak melaporkan kondisi ternaknya ke dinas terkait, sehingga menyulitkan proses pemetaan penyebaran penyakit. Padahal, laporan dari peternak sangat penting untuk menentukan langkah penanganan yang tepat. Tanpa data yang akurat, dinas kesulitan melakukan intervensi secara cepat dan terarah.

Menurut Maulana, kondisi itu menunjukkan bahwa pengendalian penyakit tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin atau tenaga medis, tetapi juga kesadaran dan partisipasi peternak. Edukasi dan sosialisasi pun terus dilakukan untuk mengubah pola pikir peternak. Namun, prosesnya tidak bisa instan dan membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan.

DPKH Kaltim berharap, ke depan peternak dapat lebih terbuka terhadap program pemerintah, khususnya terkait vaksinasi dan pelaporan. Dengan keterlibatan aktif dari peternak, upaya pengendalian penyakit diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan menyeluruh.

Maulana mengakui jika cakupan vaksinasi pada 2025 lalu lebih rendah dibanding 2024. Sehingga laporan penyebaran penyakit juga cenderung lebih tinggi karena rendahnya partisipasi vaksinasi. "Faktornya terutama karena efisiensi dari pusat itu ya. Jadi untuk vaksinasi itu turun. Jumlah pastinya saya belum pegang, tapi kalau saya lihat dan dari laporan itu (2025) memang turun dibanding 2024," tutupnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
Sumber : Kaltim Post
Vaksinasi Ternak kaltim