KALTIMPOST.ID, BANDUNG – Polemik lagu “Erika” yang kembali viral di media sosial ternyata membuka kembali jejak lama tradisi di lingkungan kampus, khususnya di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Di balik kontroversi liriknya, lagu ini disebut bukan karya baru, melainkan sudah ada sejak puluhan tahun silam.
Berdasarkan penelusuran, “Erika” telah dinyanyikan di lingkungan Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT) ITB sejak sekitar tahun 1979. Lagu tersebut merupakan bagian dari repertoar Orkes Semi Dangdut (OSD), unit musik internal yang kerap tampil dalam berbagai kegiatan mahasiswa.
Baca Juga: Viral Lagu Erika Mahasiswa ITB Tuai Hujatan, Lirik Diduga Mengandung Pelecehan Perempuan
Sejumlah sumber menyebut, “Erika” bukanlah karya generasi mahasiswa saat ini. Lagu tersebut diduga diciptakan oleh seorang mahasiswa ITB angkatan lama bernama Iwanundin.
Inspirasi liriknya disebut berasal dari pengalaman lapangan di Surabaya, ketika seorang mahasiswa tambang dikisahkan terpikat pada seorang perempuan bernama Erika.
Cerita sederhana itu kemudian berkembang menjadi lagu yang dibawakan dalam lingkup internal Himpunan Mahasiswa Tambang (HMT).
Dalam perjalanannya, “Erika” menjadi bagian dari tradisi hiburan mahasiswa, khususnya melalui Orkes Semi Dangdut (OSD) yang kerap tampil dalam berbagai kegiatan kampus.
Pada masa itu, lagu tersebut diposisikan sebagai humor internal. Ia hidup di ruang terbatas, dinyanyikan antarangkatan tanpa banyak tafsir kritis. Bagi sebagian kalangan, lagu ini hanyalah ekspresi guyonan khas mahasiswa yang berkembang sesuai zamannya.
Pada masanya, lagu ini hadir sebagai hiburan satir. Ia berkembang sebagai tradisi turun-temurun—dinyanyikan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa banyak perubahan berarti.
Bagi kalangan internal, lagu ini dulu dianggap sebagai bagian dari dinamika budaya kampus yang cair dan penuh guyonan.
Baca Juga: 7 Alasan Donald Trump Bisa Dimakzulkan: Dari Skandal hingga Ancaman Global
Namun konteks zaman berubah. Apa yang dahulu dianggap lumrah, kini dipandang dengan perspektif berbeda. Publik modern menilai lirik lagu ini mengandung unsur yang merendahkan perempuan, sehingga memicu kritik luas setelah potongan videonya beredar di media sosial.
Sejumlah narasi juga menyebut, lagu ini terinspirasi dari kisah seorang mahasiswa saat menjalani kegiatan lapangan di Surabaya.
Cerita tersebut kemudian diolah menjadi lagu dan bertahan sebagai bagian dari folklore internal mahasiswa tambang.
Di tengah perdebatan, muncul dua pandangan. Sebagian pihak menilai penting melihat konteks sejarah kemunculan lagu. Sementara lainnya menegaskan bahwa usia karya tidak menghapus dampak negatif yang mungkin ditimbulkan di masa kini.
Polemik ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tradisi lama, ketika masuk ke ruang publik digital, akan dibaca ulang dengan standar nilai yang lebih sensitif—terutama terkait isu gender dan penghormatan terhadap perempuan.
Lirik Lagu “Erika”
Pengalaman tak terlupa, waktu aku mahasiswa
Kecantol di Surabaya, janda muda nama Erika
Erika buka celana, diam-diam main gila
Sambil bawa botol Fanta, siapa mau boleh coba
Oh... goyang Erika luar biasa
Baca Juga: Daftar Lengkap 21 Pangdam Terbaru Hasil Mutasi TNI Maret 2026, Ini Nama-namanya
Oh... lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Pagi-pagi Erika mandi, lenggak-lenggok di pinggir kali
Kagetku setengah mati, lihat barang kayak serabi
Oh... goyang Erika luar biasa
Oh... lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Oh... goyang Erika luar biasa
Oh... lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Oh... goyang Erika luar biasa
Oh... lebar pinggulnya hampir sedepa
Bila disenggolnya celana pasti terbuka
Walau sudah janda sempitnya masih terasa
Ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi anunya kegedean
Ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi itunya kesempitan
Ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi anunya kegedean
Ha ha ha ha ... ha hi hi hi hi ... hi itunya kesempitan
Editor : Uways Alqadrie