Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Hilirisasi Batu Bara Kaltim Mandek, Pakar Ekonomi: Investor Lebih Untung Ekspor Mentah, Nilai Tambah Daerah Minim

Muhammad Ridhuan • Minggu, 19 April 2026 | 07:33 WIB
PELEMAHAN: Komoditas batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Kaltim mulai tunjukkan tren penurunan imbas dinamika dan permintaan global.
PELEMAHAN: Komoditas batu bara yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Kaltim mulai tunjukkan tren penurunan imbas dinamika dan permintaan global.

KALTIMPOST.ID-Wacana hilirisasi batu bara di Kaltim menjadi hal yang kembali didengungkan di tengah fluktuasi harga komoditas batu bara. Namun hingga kini, upaya meningkatkan nilai tambah dari sektor tambang dinilai masih jauh dari harapan.

Pengamat ekonomi Unmul Aji Sofyan Effendi menilai mandeknya hilirisasi tidak lepas dari pertimbangan bisnis yang belum berpihak pada pengembangan industri turunan di daerah. “Secara hitungan ekonomi, kalau cost lebih besar dari benefit, ya pasti tidak jalan. Itu logika investor,” ujarnya.

Ia menjelaskan, selama ini pelaku utama industri batu bara didominasi investor besar, baik asing maupun nasional. Dalam kondisi tersebut, ekspor bahan mentah jauh lebih menguntungkan dibandingkan membangun industri hilir yang membutuhkan investasi besar.

“Ngapain mereka hilirisasi kalau keuntungan dari ekspor langsung bisa lima sampai enam kali lipat. Itu pilihan rasional bagi pelaku usaha,” katanya.

Akibatnya, meski Kaltim menjadi salah satu lumbung batu bara terbesar di Indonesia, daerah ini masih berperan sebagai pemasok bahan mentah tanpa mendapatkan nilai tambah signifikan.

Baca Juga: Satgas Pamtas RI–Malaysia Yonkav 13/SL Gagalkan Penyelundupan Miras Ilegal di Sebatik Nunukan, 192 Botol Diamankan

Aji menilai, hilirisasi baru akan berjalan efektif jika ada perubahan struktur kepemilikan atau peran yang lebih besar dari pemerintah daerah.

“Kalau ini dikelola oleh perusahaan daerah secara serius, hilirisasi bisa jadi langkah strategis. Tapi kalau masih didominasi investor luar, sulit berharap,” ujarnya.

Sejauh ini, program hilirisasi batu bara yang paling sering didorong pemerintah adalah gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG. Proyek ini sempat direncanakan di beberapa wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan.

Namun dalam praktiknya, realisasi proyek gasifikasi masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari kebutuhan investasi besar, kepastian pasar, hingga perubahan skema pendanaan setelah mundurnya mitra investor asing.

Di Kaltim sendiri, rencana pengembangan industri turunan batu bara seperti gasifikasi dan pengolahan lainnya masih belum menunjukkan progres signifikan di lapangan. Padahal, secara potensi, Kaltim memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan bahan baku dan kedekatan dengan jalur ekspor.

Aji menilai, tanpa keberanian melakukan intervensi kebijakan yang lebih kuat, hilirisasi hanya akan menjadi wacana berulang. “Ini sudah digaungkan puluhan tahun, tapi realisasinya belum terlihat. Karena memang secara bisnis belum menarik,” tegasnya.

Baca Juga: Polsek Jempang Tangkap Pengedar Sabu-Sabu di Kampung Mancong Kubar, Sita 7 Paket dan Uang Tunai

Ia menyoroti bahwa selama ini daerah hanya mendapatkan manfaat terbatas dari sektor batu bara, terutama dalam bentuk royalti. Nilai tambah yang seharusnya bisa dinikmati melalui hilirisasi justru belum terwujud.

Dalam konteks ini, hilirisasi dinilai penting untuk memperkuat struktur ekonomi daerah yang selama ini terlalu bergantung pada ekspor komoditas mentah.

Selain itu, pengembangan industri hilir juga berpotensi menciptakan lapangan kerja yang lebih berkelanjutan dibandingkan sektor tambang yang cenderung bersifat jangka pendek.

“Kalau hilirisasi jalan, efeknya ke tenaga kerja, ke industri turunan, ke ekonomi lokal itu jauh lebih besar,” jelasnya. Namun, tantangan tetap besar. Selain faktor biaya, kepastian regulasi dan insentif juga menjadi kunci agar investor tertarik masuk ke sektor hilir.

Di tengah kondisi harga batu bara yang fluktuatif, Aji menilai momentum saat ini seharusnya bisa dimanfaatkan untuk mendorong transformasi industri. “Tapi kalau tidak ada perubahan kebijakan, kita akan tetap seperti sekarang: hanya kirim bahan mentah,” katanya.

Dengan kondisi tersebut, Kaltim dinilai masih menghadapi dilema klasik sebagai daerah kaya sumber daya, namun belum mampu mengoptimalkan nilai ekonominya. “Hilirisasi itu kunci. Tanpa itu, kita akan terus jadi penonton di daerah sendiri,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #ibu kota nusantara #tambang ilegal #Kutai Barat #batu bara