Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Hari Kartini, Hetifah Sjaifudian Tegaskan Perempuan Kaltim Harus Jadi Pelaku Pembangunan, Siap Hadapi Tantangan IKN dan Kesenjangan Gender

Dina Angelina • Selasa, 21 April 2026 | 09:06 WIB
Hetifah Sjaifudian
Hetifah Sjaifudian

KALTIMPOST.ID-Bagi sebagian orang, Hari Kartini mungkin identik dengan seremoni kebaya dan perlombaan.

Namun bagi Hetifah Sjaifudian, Ketua Komisi X DPR RI asal Kaltim, esensi Kartini jauh lebih mendalam yakni simbol keberanian untuk berpikir melampaui zaman.

Hetifah memandang sosok Kartini sebagai inspirasi dalam karier politiknya. Menurutnya dalam keterbatasan ruang gerak saat itu, Kartini tetap memilih belajar, menulis, dan memperjuangkan pendidikan bagi perempuan.

“Kartini mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari keberanian mempertanyakan ketidakadilan dan keyakinan bahwa perempuan berhak maju,” ungkapnya kepada Kaltim Post, Senin (20/4).

Alumnus ITB itu menilai semangat Kartini relevan hingga hari ini. Walau tantangan berubah bentuk, namun esensinya sama. Bagaimana memastikan perempuan punya akses pendidikan, kesempatan kerja, ruang kepemimpinan, dan suara yang didengar.

Meski memilih jalan politik bagi seorang perempuan bukanlah perkara mudah. Namun bagi Hetifah, politik adalah kendaraan paling efektif untuk melahirkan perubahan sistemik yang lahir dari kebijakan.

Baca Juga: Wartawan 60 Tahun ke Atas

Misalnya ingin pendidikan lebih baik, perlindungan perempuan lebih kuat, pembangunan daerah lebih merata. Semuanya membutuhkan keputusan politik yang tepat.

“Politik bagi saya bukan sekadar kekuasaan, tetapi alat pengabdian. Saya ingin aspirasi masyarakat, khususnya Kaltim, bisa diperjuangkan secara nyata di ruang pengambilan keputusan,” tegasnya.

Sebagai salah satu perempuan paling berpengaruh di Kaltim, Hetifah tak menampik besarnya tantangan membagi waktu antara tugas negara dan keluarga.

Kuncinya bukan pada pembagian waktu yang sama rata, melainkan komunikasi, prioritas, dan kualitas waktu.

“Saya selalu berusaha menjaga komunikasi dengan keluarga meskipun jadwal padat,” tuturnya. Dia percaya keseimbangan bukan berarti semua hal dibagi sama rata setiap hari.

Melainkan hadir sepenuh hati saat dibutuhkan, berlaku untuk keluarga maupun pekerjaan. “Dukungan keluarga juga sangat penting, dan saya bersyukur memilikinya,” tuturnya.

Tantangan lainnya karena masih ada stereotip bahwa politik adalah dunia laki-laki. Itu menuntut perempuan untuk bekerja ekstra keras demi membuktikan kapasitasnya.

Baca Juga: 371 Perpustakaan di Kubar Belum Terakreditasi, Pemkab Kejar Standar Nasional untuk Tingkatkan Literasi Sekolah

Namun, lelah itu terbayar lunas saat ia melihat dampak nyata di lapangan. “Sisi menyenangkannya adalah saat melihat anak-anak mendapat beasiswa, sekolah diperbaiki, dan guru-guru mulai diperhatikan,” tambahnya.

Serta saat masyarakat merasa aspirasinya didengar oleh wakil rakyat. Itu kepuasan batin yang luar biasa. Sementara sisi sedih adalah ketika harapan masyarakat sangat banyak.

Mengingat ekspektasi publik tinggi dan waktu yang terbatas. “Sementara proses birokrasi atau keterbatasan anggaran juga membuat semuanya tidak bisa selesai secepat yang diinginkan,” bebernya.

Selama ini, Hetifah fokus memperjuangkan pendidikan, peningkatan sumber daya manusia (SDM), pemberdayaan perempuan, pemajuan kebudayaan, olahraga, dan pembangunan daerah.

Beberapa hal yang telah ia dorong mulai dari akses beasiswa, penguatan sekolah dan perguruan tinggi, dukungan terhadap komunitas pemuda, peningkatan literasi, serta memastikan Kaltim mendapat perhatian lebih.

Namun, ia merasa masih banyak pekerjaan rumah yang tersisa. Seperti mengatasi kesenjangan upah, akses layanan keterbatasan jenis pekerjaan bagi perempuan, hingga perlindungan dari kekerasan.

Sementara untuk perempuan memiliki isu penting dari kesempatan kerja yang setara, perlindungan dari kekerasan, dukungan terhadap ibu dan anak, akses pendidikan tinggi, dan peningkatan kapasitas perempuan.

Jangan sampai perempuan hanya menjadi penonton dalam pembangunan besar di daerahnya sendiri. “Mereka harus menjadi pelaku dan terlibat aktif dalam pembangunan,” sebutnya.

Baca Juga: IKA UB Kaltim Menggelar Halalbihalal di Samarinda, Perkuat Kolaborasi Lintas Generasi Dukung Pembangunan dan IKN

Kemudian Hetifah juga menekankan pentingnya kesiapan SDM lokal. Terutama perempuan, dalam menghadapi transformasi ekonomi dan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).

Ia tidak ingin perempuan Kaltim hanya menjadi penonton di rumah sendiri. “Kesiapan masyarakat lokal menjadi pelaku utama di era IKN,” imbuhnya.

Walau memang sudah ada kemajuan di dunia kerja untuk berpihak ke perempuan. Dia melihat belum cukup besar. Partisipasi perempuan meningkat, namun masih banyak tantangan.

Seperti kesenjangan upah, keterwakilan di posisi strategis, jenis pekerjaan yang terbatas, dan dukungan fasilitas kerja ramah keluarga yang belum merata.

Semua pihak perlu berperan mendorong pelatihan vokasi yang relevan, akses perempuan ke sektor-sektor baru.

Seperti digital, industri kreatif, pariwisata, pendidikan, dan ekonomi hijau. “Dunia kerja yang adil bukan hanya soal menerima perempuan bekerja, tetapi memberi kesempatan berkembang dan memimpin,” tuturnya.

Hetifah melihat energi luar biasa pada generasi muda saat ini yang mulai mendobrak berbagai sektor, mulai dari teknologi hingga olahraga.

“Banyak perempuan muda yang berprestasi di berbagai bidang. Ini perkembangan yang sangat menggembirakan,” ujarnya.

Baca Juga: Dilantik Jadi Ketum AKPSI, Bupati PPU Dorong Penghasil Sawit Jadi Daerah Maju hingga Siap Mengawal Program B50 dari Presiden Prabowo

Baginya, refleksi Hari Kartini masa kini bukan lagi soal seremoni kebaya, melainkan tentang membuka ruang setara bagi perempuan untuk meraih cita-cita dan memimpin.

Misalnya apakah kita sudah menghentikan kekerasan, diskriminasi, dan bias gender. Kini Kartini masa kini hadir dalam banyak bentuk.

Mulai mahasiswi berprestasi, guru di pelosok, ibu rumah tangga yang mandiri, aktivis sosial, pengusaha UMKM, dan pemimpin muda.

Dia berpesan Hari Kartini harus menjadi momentum untuk melanjutkan perjuangan. Bukan sekadar mengenang sejarah. Indonesia dan Kaltim membutuhkan lebih banyak perempuan berani, terdidik, sehat, mandiri, dan percaya diri.

“Kalau perempuan maju, keluarga kuat. Kalau keluarga kuat, daerah maju. Jika daerah maju, Indonesia akan semakin hebat,” tutupnya. (rd)

Editor : Romdani.
#Anggota DPR RI Dapil Kaltim #hari kartini #ibu kota nusantara #hetifah sjaifudian #Kutai Barat