KALTIMPOST.ID, TEHERAN – Kondisi terkini Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, masih belum pulih sepenuhnya pascaserangan udara yang menghantam kompleks kediamannya beberapa waktu lalu. Situasi ini berdampak langsung pada pola kepemimpinan di Iran.
Sejumlah sumber menyebut, Mojtaba mengalami luka serius dan hingga kini masih menjalani perawatan intensif. Ia dilaporkan mengalami cedera pada bagian kaki dan tangan yang memerlukan beberapa kali tindakan operasi.
Selain itu, luka bakar di bagian wajah juga membuat aktivitasnya, termasuk komunikasi langsung, menjadi sangat terbatas.
Baca Juga: Ranking Terbaru Kampus Asia 2026: 10 Universitas Indonesia Ini Masuk Daftar Terbaik, Kampusmu?
Sejumlah media Inggris menyebut Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, sebenarnya dalam keadaan koma, dan kehilangan kaki. Seorang sumber mengklaim telah berkomunikasi dengan tim rumah sakit di mana Mojtaba dirawat.
Dalam kondisi tersebut, akses terhadap Mojtaba kini diperketat. Ia disebut berada di lokasi yang dirahasiakan dengan pengamanan berlapis. Bahkan, pertemuan langsung dengan pejabat tinggi negara dan militer dibatasi, mengingat adanya kekhawatiran serangan lanjutan.
Komunikasi dengan pemimpin tertinggi Iran itu pun dilakukan secara tidak langsung. Pesan-pesan disebut disampaikan melalui jalur khusus dan berlapis, menggunakan kurir tepercaya untuk menjaga keamanan informasi.
Meski dalam kondisi fisik yang belum stabil, Mojtaba dilaporkan tetap terlibat dalam pengambilan keputusan penting. Namun, keterbatasan mobilitas membuat sebagian besar kewenangan operasional didelegasikan.
Saat ini, peran tersebut banyak diambil alih oleh para jenderal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Kelompok militer ini disebut menjadi aktor utama dalam menentukan kebijakan strategis, terutama terkait keamanan dan pertahanan.
Di sisi lain, pemerintahan sipil tetap berjalan. Presiden Iran dan jajaran kabinet masih menjalankan fungsi administratif, termasuk dalam penanganan kondisi kesehatan Mojtaba.
Baca Juga: Harga LPG 12 Kg dan Gas Melon Naik, Rektor ITPLN Sebut Alat Masak Ini Jauh Lebih Untung
Analis menilai, situasi ini menciptakan pola kepemimpinan kolektif, di mana keputusan besar tidak lagi terpusat pada satu figur, melainkan melibatkan lingkaran militer dan elite politik.
Meski demikian, secara formal posisi Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi tidak berubah. Ia masih menjadi simbol otoritas negara, meskipun peran praktisnya saat ini belum sepenuhnya pulih.
Kondisi ini diperkirakan akan terus memengaruhi arah kebijakan Iran dalam waktu dekat, terutama di tengah dinamika konflik dan tekanan geopolitik yang masih berlangsung.
Editor : Uways Alqadrie