Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Hari Kartini 2026, Forum Publik di Samarinda Bahas Kesetaraan Gender dan Keamanan Perempuan Kaltim

Nasya Rahaya • Sabtu, 25 April 2026 | 19:04 WIB
Diskusi Publik Hari Kartini bertema “Perempuan Kaltim Dulu dan Kini: Setara Belum? Aman Belum?” di Perpustakaan Kota Samarinda, Sabtu (25/4). (FOTO NASYA/KP)
Diskusi Publik Hari Kartini bertema “Perempuan Kaltim Dulu dan Kini: Setara Belum? Aman Belum?” di Perpustakaan Kota Samarinda, Sabtu (25/4). (FOTO NASYA/KP)

KALTIMPOST.ID-Obrolan soal posisi perempuan di Kaltim belum selesai. Soal setara atau tidak, hingga rasa aman yang masih jadi pertanyaan, jadi bahasan dalam Diskusi Publik Hari Kartini di Perpustakaan Kota Samarinda, yang terlaksana, pada Sabtu (25/4).

Forum tersebut bertema “Perempuan Kaltim Dulu dan Kini: Setara Belum? Aman Belum?” itu menghadirkan empat pembicara yang sekaligus memandu jalannya diskusi, yakni Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Samarinda Inui Nurhikmah, penulis biografi Inni Indarpuri, Alisya Anastasya dari The Femme Lit Society, serta sejarawan publik Muhammad Sarip.

Sebanyak 90 peserta hadir. Dari jumlah itu, 20 orang mendapat kesempatan bicara, ada yang bertanya, ada pula yang menyampaikan pendapat.

Bahasan yang muncul beragam, mulai sejarah perempuan di Kaltim, tafsir Kartini, hingga isu kekerasan berbasis gender dan perdebatan soal feminisme.

Baca Juga: Dubes Australia Kunjungi Kodam VI/Mulawarman, Perkuat Diplomasi Sejarah dan Kerja Sama Inklusi Sosial di Balikpapan

Sarip menegaskan, pembahasan kesetaraan tidak cukup berhenti pada seremoni tahunan.

“Petugas registrasi ketika acara dimulai ikut masuk menjadi peserta. Tidak ada yang berdiam di luar. Semua yang di dalam ruangan yang meminta bicara, semuanya diberikan kesempatan yang sama, sehingga menurut keyakinan saya forum hari ini memecahkan rekor jumlah penanya terbanyak untuk forum publik di Samarinda,” ujarnya.

Dari sudut pandang generasi muda, Alisya Anastasya mengingatkan agar Kartini tidak hanya dilihat dari simbol.

“Tidak ada yang salah dengan kebaya. Tapi ketokohan Kartini itu sebenarnya bukan ikon kebaya. Ada substansi pemikiran dia tentang feminisme atau perjuangan perempuan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender,” paparnya.

Baca Juga: Dubes Australia Kunjungi Kodam VI/Mulawarman, Perkuat Diplomasi Sejarah dan Kerja Sama Inklusi Sosial di Balikpapan

Inni Indarpuri membawa cerita dari masa lalu melalui sosok Lasiah Sabirin yang ia tulis dalam biografi.

“Ibu dari Meilina ini memberikan keteladanan tentang semangat kaum perempuan untuk belajar yang tinggi bahkan sampai ke luar pulau di era 1950-an ketika fasilitas publik masih terbatas,” ungkapnya.

Sementara itu, Inui Nurhikmah memaparkan kondisi perempuan dalam dunia perbukuan, dari tingkat global hingga lokal di Kaltim. Ia juga berbagi pengalaman menerapkan kesetaraan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Lasaloka-KSB Fajar Alam menyebut forum ini akan digelar rutin dengan tema yang dekat dengan kondisi di Kaltim.

“Kegiatan hari ini berkolaborasi dengan Dispursip, IPI Samarinda, dan The Femme Lit Society merupakan forum kedua di tahun 2026, setelah forum pertama membahas sejarah Islam di Kaltim,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
#hari kartini 2026 #penajam paser utara #ibu kota nusantara #GUBERNUR KALTIM H RUDY MAS UD #Kutai Barat