KALTIMPOST.ID, WASHINGTON - Situasi politik di Amerika Serikat kembali memanas. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menjadi sorotan usai mendapat pertanyaan tajam dalam sidang Kongres terkait kondisi mental Presiden Donald Trump.
Pertanyaan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan konflik antara AS dan Iran. Dalam forum resmi di Capitol Hill, seorang anggota parlemen dari Partai Demokrat menanyakan secara langsung apakah Trump masih layak secara mental untuk menjalankan tugas sebagai panglima tertinggi.
Baca Juga: 10 Tuntutan Buruh Menggema di DPR RI Saat May Day 2026, Ini Poin-Poin Pentingnya
Namun, Hegseth tidak memberikan jawaban tegas. Ia justru membela Trump dan mengalihkan pertanyaan dengan menyinggung apakah isu serupa pernah dilontarkan kepada presiden sebelumnya, Joe Biden.
Respons tersebut memicu perhatian luas publik. Potongan video sidang dengan cepat menyebar di media sosial dan menjadi perbincangan hangat, terutama karena Hegseth dinilai menghindari jawaban inti.
Sorotan terhadap kondisi mental Trump mencuat seiring gaya komunikasinya yang kerap kontroversial, termasuk pernyataan keras di media sosial yang dinilai sebagian pihak berpotensi memperkeruh situasi global.
Perdebatan ini menambah panjang daftar dinamika politik dalam negeri AS, khususnya di tengah situasi geopolitik yang sensitif. Hingga kini, polemik tersebut masih terus menjadi bahan diskusi publik dan pengamat internasional.
Baca Juga: Daftar Lengkap Janji Prabowo di Hari Buruh 2026: Rumah, Ojol, BPJS hingga Kredit Murah
Dalam forum tersebut, anggota parlemen dari Partai Demokrat menegaskan bahwa perbandingan dengan mantan presiden Joe Biden tidak relevan. Pernyataan itu langsung disanggah Hegseth yang menilai pertanyaan tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap kepala negara.
Ia menegaskan dukungannya kepada Trump dengan menyebut sang presiden sebagai pemimpin yang kuat dan mengutamakan kepentingan militer. Pernyataan itu sekaligus memperlihatkan sikap defensif pemerintah di tengah sorotan publik.
Selain isu politik, sidang juga membahas rencana anggaran pertahanan terbaru. Pemerintahan Trump mengusulkan anggaran militer mencapai USD1,5 triliun untuk tahun 2027, yang disebut-sebut menjadi yang terbesar sepanjang sejarah negara tersebut.
Hegseth menyampaikan bahwa peningkatan anggaran itu bertujuan memperkuat kesiapan militer dalam menghadapi ancaman global, sekaligus memperbaiki kekurangan investasi pada sektor pertahanan selama bertahun-tahun.
Baca Juga: Reshuffle Kementerian PU 2026: Dody Hanggodo Copot 7 Pejabat Eselon I Termasuk Sekjen
Rencana tersebut mencakup penguatan industri pertahanan, pengadaan persenjataan modern, hingga peningkatan kesejahteraan prajurit. Salah satu poin yang disorot adalah kenaikan gaji sekitar tujuh persen bagi personel militer berpangkat rendah.
Tak hanya itu, pemerintah juga berencana melakukan pembenahan fasilitas militer, termasuk menghapus barak yang dinilai tidak layak.
Editor : Uways Alqadrie