Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Bukan Titip Lepas! Rumah SIGAP Tawarkan Model Pengasuhan Partisipatif, Solusi Cegah Kekerasan Anak di Daycare

Ulil Mu'Awanah • Sabtu, 2 Mei 2026 | 16:12 WIB
BERIMBANG: Program Rumah SIGAP menghadirkan pengasuhan yang tidak sepenuhnya diserahkan kepada lembaga, melainkan melibatkan orang tua atau pengasuh utama secara aktif.
BERIMBANG: Program Rumah SIGAP menghadirkan pengasuhan yang tidak sepenuhnya diserahkan kepada lembaga, melainkan melibatkan orang tua atau pengasuh utama secara aktif.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kasus dugaan kekerasan anak di sebuah daycare di Jogjakarta yang viral di media sosial tidak hanya mengguncang publik, tetapi juga membuka diskusi lebih luas mengenai arah industri jasa penitipan anak di Indonesia.

Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan daycare akibat perubahan struktur ekonomi keluarga, muncul pertanyaan serius, apakah sistem pengasuhan yang ada saat ini sudah cukup aman dan berorientasi pada tumbuh kembang anak?

Dalam kasus tersebut, praktik pengasuhan yang bersifat represif seperti pengikatan anak hingga pembatasan ruang gerak menjadi sorotan utama. Fenomena ini memperlihatkan adanya pendekatan pengasuhan yang tidak berbasis pada kebutuhan perkembangan anak, melainkan lebih pada kontrol operasional.

Regional Lead Kalimantan Tanoto Foundation Roselina Ping Juan menuturkan, bahwa pendekatan seperti ini bertolak belakang dengan prinsip pengasuhan yang sehat.

Baca Juga: Dampak Psikis Kasus Daycare Jogja, Orangtua Diminta Lebih Kritis Memilih Layanan

“Anak-anak, terutama usia dini, membutuhkan lingkungan yang aman, responsif, dan penuh stimulasi, bukan pembatasan atau tekanan. Mereka belum mampu mengekspresikan kebutuhan secara kompleks, sehingga tanggung jawab penuh ada pada orang dewasa,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam pendekatan yang diterapkan melalui program Rumah SIGAP yang telah hadir di Kaltim, pengasuhan tidak sepenuhnya diserahkan kepada lembaga, melainkan melibatkan orang tua atau pengasuh utama secara aktif.

Model ini berbeda dengan daycare konvensional yang cenderung mengambil alih seluruh tanggung jawab selama anak berada di fasilitas tersebut.

Dalam Rumah SIGAP, anak tidak ditinggalkan sendiri bersama pengasuh profesional, melainkan tetap didampingi oleh orang tua, nenek, atau caregiver lainnya. Pendampingan dilakukan melalui kelas bermain bersama, sesi tematik, serta stimulasi perkembangan yang terarah.

Baca Juga: Pilih Real Food dan Ogah ke Daycare, Begini Cara Ibu di Balikpapan Ini Jaga Anak Tetap Aman di Rumah

“Pendekatan ini memastikan bahwa pengasuh utama juga mendapatkan edukasi pengasuhan yang benar, sehingga bisa diterapkan secara konsisten di rumah,” tambah Ping.

Dari perspektif ekonomi, pertumbuhan daycare memang menjadi konsekuensi logis dari meningkatnya partisipasi kerja orang tua, terutama di wilayah urban. Namun, tanpa standar kualitas yang ketat, ekspansi ini berpotensi melahirkan praktik usaha yang tidak sejalan dengan prinsip perlindungan anak.

Kasus di Jogjakarta menjadi refleksi bahwa efisiensi operasional tidak boleh mengorbankan aspek kemanusiaan. Model pengasuhan berbasis partisipasi seperti Rumah SIGAP dinilai dapat menjadi alternatif yang lebih aman, karena tidak hanya berfokus pada pengawasan anak, tetapi juga pada peningkatan kapasitas pengasuh.

"Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga sosial untuk mendorong transformasi sistem pengasuhan anak usia dini," pesannya. Tanpa perubahan pendekatan, risiko terulangnya kasus serupa akan tetap tinggi, di tengah permintaan layanan yang terus meningkat. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#Rumah SIGAP Kaltim #Tanoto Foundation Kalimantan #model pengasuhan anak #solusi kekerasan daycare #edukasi pengasuhan anak