Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Dokter Spesialis Anak Samarinda Ingatkan: Bayi di Bawah 6 Bulan Belum Layak Masuk Daycare! Ini Risiko Medisnya

Nasya Rahaya • Sabtu, 2 Mei 2026 | 16:44 WIB
dr Aini Ariefa SpA, Konselor Menyusui RSUD Aji Muhammad Parikesit Samarinda.
dr Aini Ariefa SpA, Konselor Menyusui RSUD Aji Muhammad Parikesit Samarinda.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Kasus dugaan penelantaran dan kekerasan terhadap anak di daycare Little Aresha, Yogyakarta, yang belakangan viral di media sosial menjadi alarm keras bagi para orang tua di seluruh Indonesia, termasuk para orang tua di Kaltim.

dr Aini Ariefa SpA, selaku konselor menyusui dari RSUD Aji Muhammad Parikesit Samarinda yang juga menjabat sebagai Pengurus IDAI Kaltim menegaskan, bayi usia di bawah enam bulan belum layak dititipkan di daycare secara rutin. "Usia di bawah enam bulan merupakan fase paling rentan. Sistem imun belum matang, bayi belum banyak menerima vaksin yang dapat melindungi tubuhnya," ujarnya, Jumat (2/5).

Pada usia tersebut, risiko infeksi seperti ISPA, diare, hingga penyakit menular lainnya relatif jauh lebih tinggi di lingkungan daycare dibanding di rumah. Ia menyarankan agar bayi usia 0–6 bulan idealnya tetap dalam pengasuhan orang tua atau pengasuh pribadi di lingkungan terbatas. "Bila terpaksa, hanya boleh dalam durasi sangat singkat, satu hingga tiga jam. Tidak dianjurkan full day," tegasnya.

Baca Juga: Rumah SIGAP Jadi Jawaban? Begini Cara Tanoto Foundation Reformasi Pola Asuh Anak di Kaltim Pasca Kasus Daycare Jogja

Dia menjelaskan, secara medis tidak ada satu angka mutlak yang menjadi patokan aman. Namun ia merinci panduan berdasarkan tahapan usia sebagai acuan bagi orang tua. Memasuki usia 6–12 bulan, kondisi bayi mulai lebih aman karena sebagian imunisasi dasar sudah diberikan. Meski begitu, anak tetap cukup rentan.

Jika orang tua terpaksa menitipkan, dr Aini menyarankan memulai dari dua hingga empat jam, dengan batas maksimal enam hingga delapan jam per hari. "Boleh masuk daycare jika terpaksa, tapi orang tua harus datang langsung melihat tempatnya terlebih dahulu. Pastikan higienis dan rasio pengasuhnya baik," katanya.

Pada usia 12–24 bulan, sistem imun anak sudah mulai lebih kuat dan anak mulai membutuhkan stimulasi sosial. Rentang usia ini dinilai lebih ideal untuk mulai daycare secara bertahap, dengan durasi empat hingga enam jam per hari.

Sementara anak usia di atas dua tahun disebut dr Aini sebagai yang paling siap, baik secara medis maupun perkembangan sosial-emosional. "Di usia ini anak sudah lebih mampu beradaptasi, komunikasi mulai berkembang, dan risiko infeksi relatif lebih bisa ditoleransi. Durasi penitipan sudah lebih fleksibel, empat hingga delapan jam per hari," jelasnya.

Baca Juga: Dampak Psikis Kasus Daycare Jogja, Orangtua Diminta Lebih Kritis Memilih Layanan

Lebih lanjut, dr Aini mengingatkan bahwa usia bukan satu-satunya penentu. Orang tua wajib mempertimbangkan kelengkapan imunisasi anak, riwayat kesehatan bawaan, hingga apakah anak lahir prematur. "Anak dengan penyakit bawaan atau lahir belum cukup bulan perlu perhatian ekstra sebelum diputuskan untuk dititipkan," katanya.

Kualitas daycare juga menjadi faktor krusial, mulai dari kebersihan, ventilasi ruangan, pencahayaan, hingga kebijakan penanganan anak sakit. Dr Aini turut memberikan panduan praktis bagi orangtua dalam memilih tempat penitipan yang layak. Ada lima indikator utama yang wajib dicermati.

Pertama, kebersihan dan kebijakan anak sakit. Daycare harus memiliki aturan tegas, anak yang demam atau diare tidak boleh masuk. "Daycare adalah tempat penularan infeksi paling umum pada balita. Ventilasi baik dan pencahayaan cukup juga sangat penting," tegasnya.

Kedua, rasio pengasuh berbanding anak. Semakin kecil rasionya, semakin baik. Untuk bayi di bawah satu tahun, idealnya satu pengasuh menangani dua hingga tiga bayi. Untuk anak usia 1–3 tahun, satu pengasuh untuk empat hingga enam anak.

Ketiga, ketersediaan program stimulasi. Pastikan ada kegiatan harian yang merangsang tumbuh kembang anak secara optimal. Keempat, transparansi laporan harian. Daycare yang baik wajib memberikan laporan aktivitas dan kondisi anak kepada orangtua setiap hari.

Kelima, keamanan fisik lingkungan. Pastikan area bermain bebas dari potensi bahaya yang dapat membahayakan anak. Terakhir, dia berpesan kepada para orangtua agar tidak mengambil keputusan menitipkan anak semata berdasarkan reputasi atau tampilan luar sebuah daycare.

"Yang terpenting, orangtua harus datang langsung, melihat kondisi daycare, bertanya soal kebijakan mereka, dan memastikan anak benar-benar dalam pengasuhan yang aman dan penuh kasih sayang," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#dr Aini Ariefa SpA #bayi masuk daycare #rasio pengasuh bayi ideal #tips memilih daycare #RSUD Aji Muhammad Parikesit