Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ketegangan di Selat Hormuz Meningkat, ASEAN Pasang Badan Amankan Pasokan Energi dan Pangan

Dwi Puspitarini • Selasa, 5 Mei 2026 | 05:44 WIB
Selat Hormuz. (Foto: AFP)
Selat Hormuz. (Foto: AFP)

KALTIMPOST.ID - Ketegangan yang kian memanas di Timur Tengah kini imbasnya hingga ke kawasan Asia Tenggara.

Para menteri ekonomi yang tergabung dalam Dewan Komunitas Ekonomi ASEAN (AECC) menyatakan kekhawatiran atas terganggunya jalur perdagangan di Selat Hormuz.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah menyebabkan jalur navigasi internasional tersebut tidak stabil. ASEAN menilai, jika masalah ini dibiarkan, dampaknya akan langsung pada ekonomi warga, mulai dari kenaikan harga BBM hingga ketidakpastian harga kebutuhan pokok.

“Untuk meminimalkan gangguan terhadap arus perdagangan energi, kami menggarisbawahi pentingnya menjaga jalur laut yang aman dan terbuka, memastikan kebebasan navigasi, dan jalur transit kapal dan pesawat yang aman, tanpa hambatan, dan berkelanjutan di selat yang digunakan untuk navigasi internasional, sesuai dengan hukum internasional, termasuk Konvensi PBB tentang Hukum 1982 (UNCLOS),” tulis pernyataan resmi AECC yang dikutip dari laman Keketuaan Filipina untuk ASEAN 2026, mengutip dari Antaranews.com, Selasa (5/5).

Baca Juga: Bukan Cuma Pertamina, SPBU Swasta Ikut Naikkan Harga BBM, Mana yang Paling Mahal?

Langkah Strategis ASEAN Menghadapi Krisis

Berdasarkan hasil pertemuan konferensi video pada akhir April lalu, terdapat beberapa poin penting yang menjadi fokus utama ASEAN dalam menghadapi dampak Konflik Selat Hormuz:

Pemantauan Ketat: Menugaskan pejabat ekonomi senior untuk menilai dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah secara terpadu.

Komitmen Non-Tarif: Menahan diri dari kebijakan yang menghambat perdagangan, terutama pada komoditas energi dan pangan.

Kerja Sama Mitra: Memperkuat hubungan dengan mitra luar kawasan untuk merespons krisis secara cepat dan kolektif.

ASEAN menyadari bahwa Selat Hormuz telah menjadi "titik api" sejak Februari lalu, terutama setelah Iran mengambil kendali jalur tersebut sebagai balasan atas serangan lawan. Situasi semakin rumit setelah AS melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran menyusul kegagalan perundingan damai.

Baca Juga: Resmi Naik! Cek Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru per 4 Mei 2026, Ada yang Tembus Rp 27 Ribu?

“Kami menugaskan pejabat ekonomi senior dan badan-badan sektoral terkait untuk memantau dan menilai secara cermat perkembangan strategi regional yang komprehensif dan terpadu untuk mengatasi dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah,” tegas pernyataan AECC dalam dokumen tersebut.

Dengan langkah-langkah darurat ini, ASEAN berharap ketahanan kawasan tetap terjaga meski badai ekonomi akibat Konflik Selat Hormuz terus mengancam stabilitas global.***

Editor : Dwi Puspitarini
#konflik Selat Hormuz #Ekonomi ASEAN #Harga Pangan dan Energi #perang timur tengah #krisis energi global