Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Masih Punya Hutang Puasa Ramadan, Bolehkah Tetap Puasa Dzulhijjah? Ini Penjelasan

Ilmidza • Selasa, 12 Mei 2026 | 11:10 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

KALTIMPOST.ID, Bulan Dzulhijjah segera tiba. Banyak umat Islam mulai bersiap menjalankan puasa sunnah Dzulhijjah, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah yang dikenal memiliki keutamaan besar.

Namun, muncul pertanyaan yang cukup sering dibahas: bagaimana jika seseorang masih memiliki utang puasa Ramadan? Apakah tetap diperbolehkan menjalankan puasa sunnah Dzulhijjah terlebih dahulu?

Pertanyaan ini kerap menjadi dilema karena puasa Dzulhijjah hanya hadir setahun sekali, sedangkan puasa qadha Ramadan masih bisa dilakukan di waktu lain sebelum Ramadan berikutnya datang.

Perbedaan Pendapat Ulama

Dalam persoalan ini, para ulama memiliki dua pandangan utama yang sama-sama memiliki dasar hukum.

Pendapat yang Mendahulukan Qadha Ramadan

Sebagian ulama dari kalangan Syafi’iyah menilai puasa wajib Ramadan yang belum diganti sebaiknya didahulukan dibanding puasa sunnah.

Mereka berpendapat bahwa qadha Ramadan merupakan kewajiban yang harus segera ditunaikan sebelum datang Ramadan berikutnya. Karena itu, mendahulukan ibadah sunnah saat kewajiban belum selesai dianggap kurang tepat dari sisi prioritas ibadah.

Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi menjelaskan bahwa puasa sunnah yang dilakukan oleh orang yang masih memiliki utang puasa tetap sah, tetapi hukumnya makruh atau kurang dianjurkan.

Pendapat yang Membolehkan Puasa Sunnah

Sementara itu, mayoritas ulama dari mazhab Hanafiyah dan Hanabilah memperbolehkan seseorang menjalankan puasa sunnah meski masih memiliki utang puasa Ramadan.

Menurut pandangan ini, qadha Ramadan memiliki rentang waktu yang cukup panjang selama belum memasuki Ramadan berikutnya. Karena itu, puasa sunnah di hari-hari utama seperti Dzulhijjah tetap diperbolehkan dan tidak menghapus kewajiban qadha.

Mana yang Lebih Dianjurkan?

Meski terdapat perbedaan pandangan, banyak ulama menyarankan untuk memilih sikap yang lebih hati-hati, terutama dalam perkara yang berkaitan dengan kewajiban.

Bila utang puasa masih cukup banyak dan waktu menuju Ramadan berikutnya semakin dekat, maka qadha puasa lebih baik diprioritaskan.

Namun jika jumlah utang puasa sedikit dan masih ada waktu panjang untuk menggantinya, menjalankan puasa Dzulhijjah tetap diperbolehkan menurut pendapat mayoritas ulama.

Bolehkah Menggabungkan Niat?

Sebagian orang juga bertanya apakah niat qadha Ramadan bisa digabung dengan puasa sunnah Dzulhijjah.

Sejumlah ulama kontemporer membolehkan hal tersebut. Seseorang dapat berniat utama untuk qadha Ramadan sambil berharap mendapatkan keutamaan puasa di hari-hari Dzulhijjah.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan bahwa menggabungkan niat qadha dengan mengambil keutamaan hari-hari tertentu diperbolehkan dan pahala dari keutamaan hari tersebut tetap diharapkan bisa diperoleh.

Meski demikian, niat utama tetap diarahkan untuk menunaikan qadha puasa Ramadan karena hukumnya wajib.

Hal yang Perlu Diperhatikan

Beberapa hal yang dianjurkan saat ingin menggabungkan niat puasa, antara lain:

Dengan demikian, umat Islam tetap bisa menyesuaikan ibadah sesuai kondisi masing-masing sambil tetap mengutamakan kewajiban yang belum ditunaikan.

Editor : Ilmidza
#puasa #hari raya idul adha #Puasa Dzulhijjah 2025