KALTIMPOST.ID-Lonjakan harga dexlite sejak April 2026 mulai menimbulkan efek berantai di sektor otomotif Balikpapan.
Tidak hanya memukul pasar mobil bekas berbahan bakar diesel, kondisi tersebut juga mengubah perilaku pengguna kendaraan hingga memunculkan kekhawatiran baru di dunia perbengkelan.
Mobil diesel yang sebelumnya menjadi primadona, seperti Mitsubishi Pajero Sport dan Toyota Fortuner, kini kehilangan daya tarik. Harga jual turun, penjualan lesu, sementara sebagian pemilik kendaraan mulai beralih menggunakan biosolar demi menekan biaya operasional.
Pemilik showroom mobil bekas CV Keyla Batuah di Balikpapan, Latif mengatakan kenaikan harga dexlite menjadi pukulan berat bagi pelaku usaha jual beli mobil bekas, khususnya kendaraan diesel premium.
“Sejak kenaikan dexlite itu sangat berdampak untuk kami pelaku jual beli mobil bekas. Terutama mobil berbahan bakar diesel seperti Pajero dan Fortuner,” ujarnya kepada Kaltim Post, Sabtu (16/5).
Baca Juga: Karateka Muda Balikpapan Muhammad Arif Saprudin Raih Emas di Kejurnas Forki 2026 Bandung
Menurut Latif, harga jual mobil diesel bekas kini turun sekitar 30 persen dibanding sebelum kenaikan bahan bakar.
Penurunan itu dipicu melemahnya minat masyarakat terhadap kendaraan diesel yang biaya operasionalnya semakin mahal.
“Kalau penurunan harga mungkin sekitar 30 persen. Penjualannya juga turun, bahkan bisa sampai 50 persen,” katanya.
Ia mencontohkan unit Pajero yang sebelumnya mudah terjual kini justru sepi peminat. Padahal, kendaraan tersebut selama ini termasuk salah satu mobil favorit di kelas SUV premium.
“Dulu Pajero itu mobil idola, banyak yang cari. Sekarang diiklankan lama pun hampir tidak ada yang tanya,” ungkapnya.
Kondisi pasar juga berubah drastis. Jika sebelumnya showroom lebih banyak menerima calon pembeli, kini justru banyak pemilik kendaraan diesel datang menawarkan mobil mereka untuk dijual.
“Sekarang malah kebalikannya. Orang yang datang jual mobil diesel lebih banyak. Hampir tiap hari ada yang menawarkan,” sebutnya.
Baca Juga: Ketua Komisi II DPRD Mahulu Dukung Pelestarian Adat Uman Untat di Kampung Rukun Damai
Mayoritas penjual berasal dari pemilik pribadi yang mulai keberatan dengan biaya bahan bakar. Menurut Latif, faktor konsumsi BBM kini menjadi pertimbangan utama masyarakat saat mencari kendaraan. “Sekarang orang cari mobil itu yang pertama ditanya bahan bakarnya dulu,” katanya.
Di tengah lesunya pasar diesel, kendaraan berbahan bakar bensin justru masih relatif stabil. Latif menilai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bensin tidak terlalu memengaruhi minat pasar. “Kalau mobil bensin masih standar saja. Tidak terlalu ada perubahan,” ujarnya.
Karena itu, pelaku usaha mobil bekas kini lebih selektif menerima unit diesel. Bahkan untuk sementara, Latif mengaku lebih memilih stok kendaraan berbahan bakar bensin. “Kalau diesel sekarang saya agak hati-hati, kecuali harganya memang murah,” tuturnya.
Menurut dia, kondisi pasar saat ini menjadi salah satu periode terberat sejak dirinya mulai berjualan mobil bekas pada 2005. Ia bahkan menyebut situasi sekarang hampir menyerupai masa pandemi Covid-19.
“Kalau dulu saat Covid-19 memang ada pembatasan aktivitas, tapi pembeli masih ada. Sekarang tidak ada pembatasan, tapi pasarnya tetap lesu,” katanya. (rd)
Editor : Romdani.