
KALTIMPOST.ID-Kenaikan harga dexlite sejak April 2026 juga memukul pelaku usaha transportasi dan rental mobil di Kaltim.
Di mana sebelumnya harga dexlite Rp 14.500 dan pertamina dex Rp 14.800 per liter. Menjadi Rp 24.150 untuk dexlite Rp 24.450 untuk pertamina dex. Harga itu naik kembali pada Senin (4/5). Di mana dexlite menjadi Rp 26.600 dan pertamina dex menjadi Rp 28.500.
Naiknya harga BBM itu membuat biaya operasional menjadi tinggi. Kondisi itu membuat banyak armada diesel kini lebih sering terparkir dibanding beroperasi di jalan.
Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha Rental Mobil Daerah Indonesia (Asperda) Kaltim, Damun Kiswanto mengatakan lonjakan harga BBM nonsubsidi menjadi pukulan berat bagi sektor transportasi, khususnya kendaraan berbahan bakar diesel.
“Dengan adanya kenaikan harga BBM yang signifikan ini, usaha transportasi sangat terpukul sekali,” ujarnya, Sabtu (16/5).
Baca Juga: Karateka Muda Balikpapan Muhammad Arif Saprudin Raih Emas di Kejurnas Forki 2026 Bandung
Menurut Damun, kondisi tersebut membuat bisnis transportasi mengalami perlambatan cukup serius dalam beberapa bulan terakhir. Selain harga yang mahal, ketersediaan dexlite di lapangan juga disebut tidak selalu mudah diperoleh.
“BBM mahal dan kadang susah juga didapatkan. Efeknya sangat berat untuk pelaku usaha yang memakai kendaraan diesel,” katanya.
Ia menyebut, banyak armada rental kini minim operasional karena biaya bahan bakar tidak lagi sebanding dengan pemasukan usaha. “Sudah hampir lima bulan terakhir ini unit-unit kami minim jalan,” ungkapnya.
Damun berharap pemerintah dan pihak terkait dapat memberikan perhatian terhadap kondisi pelaku usaha transportasi yang terdampak langsung kenaikan BBM. Menurutnya, sektor rental dan transportasi ikut tertekan di tengah perlambatan ekonomi yang terjadi belakangan ini.
“Kami berharap keluh kesah pengusaha transportasi ini bisa didengar pihak terkait terutama pemerintah,” katanya.
Ia menilai lesunya aktivitas usaha di sektor pertambangan dan industri turut berdampak terhadap bisnis rental mobil di Kaltim. Kunjungan tamu dan aktivitas perjalanan disebut ikut menurun dalam beberapa waktu terakhir.
“Kalau saya lihat, aktivitas tambang juga mulai berkurang. PHK juga mulai banyak. Itu sangat berdampak ke usaha transportasi,” ujarnya.
Baca Juga: Ketua Komisi II DPRD Mahulu Dukung Pelestarian Adat Uman Untat di Kampung Rukun Damai
Di sisi lain, penggunaan biosolar belum bisa menjadi solusi bagi mayoritas pelaku rental mobil. Damun mengatakan kendaraan rental umumnya menggunakan pelat hitam sehingga tidak masuk kategori penerima BBM subsidi.
“Untuk biosolar itu ada persyaratan khusus. Biasanya kendaraan pelat kuning atau angkutan tertentu. Kalau kami ini rental mobil, bukan angkutan umum,” jelasnya.
Akibatnya, pelaku usaha rental mengaku kesulitan memperoleh barcode subsidi untuk mengakses biosolar di SPBU. “Untuk mendapatkan barcode itu susah. Ditambah lagi biosolar juga cukup langka,” katanya. (rd)
Editor : Romdani.