KALTIMPOST.ID, SAMARINDA– Kampung di perbatasan Kalimantan Timur, tepatnya di Desa Batoq Kelo, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Mahakam Ulu, ribuan warga menaruh harapan besar terhadap sebuah proyek yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batoq Kelo berkapasitas 300 megawatt (MW) sangat menaruh asa warga, yang selama ini hidup berdampingan dengan keterbatasan listrik dan akses jalan.
Seperti yang diungkapkan Kepala Kampung Batoq Kelo, Murad, bahwa proyek PLTA ini disebut menjadi titik balik perubahan di desanya. Sebab selama ini mereka hidup bertahun-tahun tertinggal dari sisi infrastruktur. "Kami tentu mendukung. Kami berharapnya listrik nanti bukan hanyak untuk di desa, tapi juga ke kota-kota yang lain, termasuk area yang berdekatan dengan IKN," ucapnya.
Di kampung yang dihuni sekitar 1.075 jiwa itu, kehidupan mereka berjalan sederhana. Mayoritas warga disebut menggantungkan hidup dari bertani dan berladang. Sebagian lainnya berdagang kecil-kecilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, masuknya proyek besar ke kampung mereka dianggap sebagai peluang baru. Warga berharap pembangunan PLTA bisa membuka akses jalan, jembatan, hingga lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.
Baca Juga: Gubernur Rudy Mas'ud Sentil Proyek PLTA Mahulu: Jangan Sampai Listriknya Besar, Warga Pakai Lilin
"Jalan dan jembatan di sana selama ini kurang memadai. Mudah-mudahan dengan adanya proyek ini akses bisa lebih baik," kata Murad. Di sisi lain, Murtad berharap perusahaan nantinya melibatkan warga sekitar dalam proses pembangunan maupun operasional proyek. Sebab, masyarakat ingin ikut merasakan dampak ekonomi secara langsung, bukan hanya menjadi penonton di kampung sendiri.
Namun di balik seremoni groundbreaking itu, ada cerita lain yang tersimpan dari masyarakat adat setempat. Selama bertahun-tahun, warga Batoq Kelo hidup dengan pasokan listrik terbatas dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Ketua Adat Kampung Batoq Kelo, Natalius Kandang, menggambarkan bagaimana listrik di kampungnya belum cukup kuat untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Alat elektronik seperti kulkas hingga kipas angin bahkan sulit digunakan secara normal.
"Yang ada sekarang PLTS, tapi terbatas sekali pemakaiannya. Kulkas, kipas angin, alat-alat listrik lain banyak yang tidak mampu," tuturnya. Karena itu, kabar pembangunan PLTA 300 MW disambut penuh haru oleh warga. Mereka membayangkan listrik yang menyala 24 jam bisa mengubah banyak hal, mulai dari aktivitas sekolah, pelayanan kantor kampung, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat.
"Kalau listrik bagus, pendidikan bisa jalan lebih baik, kantor-kantor juga hidup. Itu harapan kami," ucap Natalius. Kendati demikian, Natalius menitipkan pesan khusus kepada pihak perusahaan dan investor. Dia berharap pembangunan proyek tidak melupakan masyarakat adat yang tinggal di sekitar kawasan PLTA.
Kata dia, anak-anak muda kampung yang masih menganggur harus diberi kesempatan bekerja. Perusahaan juga diminta ikut membantu sektor pendidikan dan kesehatan masyarakat sekitar. "Saya pesan itu (anak muda). Anak-anak muda di sini juga harus dilibatkan kerja. Sekolah dan kesehatan juga mohon diperhatikan," katanya. "Saya juga menitip pesan, misal apa kesulitan masyarakat yang dekat pembangunan, saya harap ada toleransinya, kita saling bantu-bantu lah. Misal diperhatikan anak sekolah, dan kesehatan cucu-cucu kami juga," tutupnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki