SAMARINDA – Diabetes melitus (DM) dan hipertensi menjadi dua penyakit yang kini mendapatkan atensi lebih dari masyarakat di seluruh daerah. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismid Kusasih, membenarkan hal tersebut dan menyebut bahwa kedua penyakit ini tidak lagi hanya menyasar orang tua, tetapi juga kalangan muda.
Menurut Ismed, gaya hidup yang kurang baik menjadi penyebab terbesar bergesernya tren usia penderita saat ini. “Gaya hidup yang buruk serta konsumsi gula dan garam yang terlalu sering bisa menjadi pemicu awal,” kata Ismid saat dikonfirmasi di Kantor Dinkes Samarinda, Jalan Milono, Senin (25/5/2026).
Jika dulu mayoritas penderita hipertensi dan diabetes (di luar faktor keturunan) berada pada usia di atas 45–50 tahun, saat ini kondisinya justru bergeser. Ismid mengungkapkan, penderita DM yang pernah ditemuinya ada yang baru berusia 15 tahun, sementara penderita hipertensi ditemukan di bawah usia 30 tahun.
“Iya, kasus paling muda untuk DM yang kami temukan mulai dari usia 15 tahun. Saat ini kita sadari, coffee shop sangat mudah kita jumpai, begitu juga makanan instan. Jadi, akses ke makanan dan minuman manis sangat mudah kita jangkau,” bebernya. Sebagai salah satu penyumbang kasus kematian yang cukup tinggi, Ismid menjelaskan bahwa kedua penyakit tersebut memang bukan penyebab tunggal, melainkan karena komplikasi yang ditimbulkannya.
Hipertensi yang tidak terkontrol dapat mengarah pada penyakit kardiovaskular, mulai dari stroke hingga serangan jantung. Sementara itu, diabetes dapat mengakibatkan kegagalan fungsi organ vital. Ismid menekankan bahwa faktor keturunan kini bukan lagi alasan utama seseorang terkena kedua penyakit tersebut.
Meski memiliki persentase pengaruh, pola hidup yang tidak sehat tetap memegang andil terbesar. “Tetap yang paling besar itu pola hidup. Namun, kalau sudah tahu ada turunan (riwayat keluarga), harusnya sadar diri untuk lebih menjaga asupan makanan,” pungkas Ismid. (Ainur Rofiah/riz)
Editor : Muhammad Rizki