KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi bakal sulit untuk kembali menguat ke level Rp 16.000 hingga Rp 17.000 dalam waktu dekat. Melemahnya kinerja fundamental Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) akibat gejolak global menjadi faktor penekan utama mata uang Garuda, meskipun fundamental ekonomi domestik diklaim masih dalam kondisi solid.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk (BNLI), Josua Pardede dalam keterangannya kepada media massa, menjelaskan, secara teori nilai tukar riil efektif (Real Effective Exchange Rate/REER), posisi wajar rupiah dalam kondisi normal mestinya berada jauh di bawah level saat ini.
Di atas kertas, potensi penguatan rupiah ke level Rp 16.200 pada periode Juni hingga Agustus mendatang sebenarnya masih masuk akal secara matematis.
Namun, Josua mengingatkan bahwa pergerakan mata uang saat ini tidak bekerja di ruang hampa dan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dunia. Pasar saat ini cenderung mengambil sikap menunggu (wait and see) sembari mengantisipasi hasil asesmen dari lembaga rating global terkemuka, seperti S&P dan MSCI.
"Hambatan terbesar yang membuat rupiah cenderung rapuh dalam jangka menengah berakar pada penurunan kinerja fundamental Neraca Pembayaran Indonesia," ungkap Josua.
Ia menambahkan, pembengkakan defisit transaksi berjalan dipicu oleh penurunan nilai ekspor serta tingginya beban impor minyak mentah akibat konflik global yang berkepanjangan. Kondisi tersebut membuat surplus pada pos finansial tidak lagi mampu menutupi celah defisit struktural, sehingga keseluruhan NPI diperkirakan tetap mencatatkan hasil negatif di sisa tahun ini.
Baca Juga: Butuh Dana Darurat Cepat Tanpa Ribet? Ini Daftar Pinjol Legal yang Langsung Cair untuk Warga Kaltim
Dua Dekade Fluktuasi Rupiah
Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional saat ini jauh lebih kuat dalam menghadapi tekanan global jika dibandingkan dua dekade lalu. Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, membeberkan rekam jejak pergerakan kurs rupiah sepanjang periode 2004 hingga 2024 yang terbagi dalam dua fase penting.
Pada dekade pertama (2004–2014), nilai tukar rupiah tercatat mengalami depresiasi yang cukup dalam, yakni mencapai 40 persen. "Pada 2005, inflasi bahkan sempat menyentuh angka 17 persen akibat lonjakan harga minyak dunia yang mencapai USD 140 per barel," ujar Menko Airlangga dalam acara sinergi kebijakan ekonomi di Balai Kartini, Jakarta.
Baca Juga: SIM Digital Resmi Diluncurkan, Pengendara di Kaltim Tak Perlu Cemas Kartu Fisik Tertinggal
Sementara pada dekade kedua (2014–2024), tingkat depresiasi rupiah berhasil ditekan menjadi 30,6 persen dengan tingkat inflasi yang jauh lebih terkendali di kisaran 3 persen. Bahkan saat ini, per hari ini inflasi nasional mampu dijaga ketat di level 2,4 persen dengan depresiasi rupiah yang hanya sebesar 5 persen.
Airlangga memastikan, ketahanan ekonomi Indonesia saat ini ditopang oleh kondisi sektor perbankan dan korporasi nasional yang tetap sehat dan solid di tengah ketidakpastian pasar global.(*)
Editor : Thomas Priyandoko