KALTIMPOST.ID,WASHINGTON–Titik terang diplomasi mulai tampak dalam konflik Timur Tengah. Untuk kali pertama dalam beberapa dekade, delegasi militer Lebanon dan Israel menggelar pembicaraan langsung di Pentagon, Washington, Amerika Serikat, Jumat waktu setempat. Pertemuan ini menjadi babak baru yang krusial di tengah kebuntuan politik kawasan.
Pentagon merilis pernyataan resmi bahwa dialog yang dihadiri enam anggota delegasi militer Lebanon tersebut berlangsung "produktif". Pembicaraan berfokus pada pembangunan kerangka praktis untuk keamanan dan stabilitas regional. Hasil dari pertemuan ini nantinya akan dibawa ke meja negosiasi tingkat tinggi bersama Departemen Luar Negeri AS pada pekan depan.
"Delegasi kami yang dipimpin Kepala Operasi Angkatan Darat, Brigjen George Rizkallah, menargetkan implementasi gencatan senjata secara komprehensif dan penghentian permusuhan total," ujar seorang pejabat militer senior Lebanon yang meminta identitasnya dirahasiakan yang dikutip AP, Sabtu (30/5).
Lebanon juga mendesak pengaktifan kembali komite pemantau gencatan senjata yang sempat diinisiasi AS pada akhir 2024 lalu. Jika kesepakatan tercapai, agenda berikutnya adalah penempatan tentara Lebanon di sepanjang perbatasan serta penarikan mundur pasukan Israel.
Di sisi lain, Presiden Lebanon Joseph Aoun juga telah berkomunikasi langsung via telepon dengan Menlu AS Marco Rubio untuk menegaskan bahwa gencatan senjata adalah pintu masuk utama penyelesaian konflik.
Namun, di saat para petinggi militer berdialog di Washington, situasi di lapangan justru berbanding terbalik. Pasukan Israel dilaporkan kian merangsek jauh ke wilayah Lebanon selatan.
Pada Jumat dini hari, tank dan personel militer Israel dilaporkan memasuki Desa Dibbine, dekat Kota Marjayoun. Tak hanya itu, jet tempur Israel juga meluncurkan rentetan serangan udara yang menewaskan sedikitnya enam orang, termasuk seorang petugas kepolisian kota di Desa Ebba.
Baca Juga: Bukan Stadion Azteca, "Lapangan para Dewa" Meksiko Ternyata Ada di Dalam Kawah Gunung Berapi
Pertempuran sengit antara pasukan Israel dan pejuang Hizbullah juga pecah di Desa Yohmor dan Zawtar al-Sahrqieh. Pasukan Israel kini telah menyeberangi Sungai Litani—jalur strategis yang selama ini menjadi batas de facto kedua wilayah.
Kondisi ini memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Ratusan keluarga di Lebanon selatan terpaksa angkat kaki ke wilayah utara yang lebih aman setelah militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi massal.
Meski gencatan senjata nominal telah disepakati sejak 17 April lalu, kenyataan di lapangan menunjukkan wilayah selatan Lebanon kini sepenuhnya berada di bawah kendali militer Israel.(*)
Editor : Thomas Priyandoko