KALTIMPOST.ID-Pembangunan PLTA Batoq Kelo berkapasitas 300 Megawatt (MW) di Mahulu dinilai memiliki peran yang lebih besar dibanding sekadar menambah pasokan listrik.
Di tengah meningkatnya kebutuhan energi akibat pembangunan IKN dan ekspansi industri, pembangkit energi terbarukan tersebut berpotensi menjadi penyeimbang sistem kelistrikan Kalimantan.
Dosen Teknik Elektro Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Yun Tonce Kusuma Priyanto menjelaskan, sistem kelistrikan Kalimantan selama ini masih didominasi pembangkit berbasis bahan bakar fosil, baik PLTU, PLTG maupun PLTGU.
Karena itu, masuknya pembangkit energi terbarukan dalam skala besar menjadi langkah strategis dalam mendiversifikasi sumber pasokan listrik.
“Kalau selama ini sistem kelistrikan kita bergantung pada pembangkit berbasis fosil, maka hadirnya PLTA skala besar menjadi diferensiasi sumber energi yang sangat penting,” ujar Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum, Fakultas Sains dan Teknologi Informasi ITK itu.
Baca Juga: Letkol Inf Muhammad Faisal Idris Resmi Jabat Dandim 0902/Berau Gantikan Kolonel Wirahady
Menurut Yun, keunggulan utama PLTA terletak pada kemampuannya merespons perubahan keperluan listrik secara cepat.
Berbeda dengan PLTU yang memerlukan waktu berjam-jam untuk meningkatkan produksi listrik, turbin air bisa menaikkan atau menurunkan daya dalam waktu relatif singkat sesuai kebutuhan sistem.
“PLTU memerlukan waktu 8 jam persiapan. Cukup lama ketika harus menaikkan kapasitas pembangkit. Sementara PLTA bisa merespons jauh lebih cepat. Sehingga sangat membantu menjaga kestabilan sistem saat terjadi perubahan beban secara mendadak,” jelasnya.
Kemampuan tersebut menjadikan PLTA berfungsi sebagai cadangan daya cepat atau spinning reserve dalam sistem tenaga listrik.
Saat terjadi lonjakan konsumsi listrik atau gangguan pada pembangkit lain, PLTA bisa segera menyuplai tambahan daya untuk menjaga frekuensi sistem tetap stabil.
Tak hanya itu, PLTA juga dinilai mampu mendukung integrasi energi baru terbarukan lain yang bersifat intermiten, seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
Ketika produksi listrik PLTS menurun akibat cuaca mendung atau hujan, PLTA dapat mengambil alih sebagian pasokan yang hilang.
“PLTA bisa meng-cover sumber energi yang sifatnya intermiten. Kalau PLTS tiba-tiba turun karena cuaca, PLTA bisa membantu menjaga pasokan listrik tetap stabil,” kata pria yang tergabung dalam International Association of Engineers tersebut.
Yun menilai potensi gangguan akibat faktor intermitensi pada PLTA relatif kecil. Berbeda dengan tenaga surya yang sangat bergantung pada kondisi cuaca, aliran air cenderung lebih stabil dan dapat dimanfaatkan sepanjang hari, termasuk malam hari.
“Kalau tidak terjadi kondisi luar biasa seperti bencana besar, pasokan dari PLTA relatif stabil. Itu sebabnya pembangkit tenaga air menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang paling andal,” ujar tenaga ahli bidang Mekanikal Elektrikal Plumbing (MEP) Tim Profesi Ahli (TPA) Balikpapan itu.
Dari sisi keandalan sistem, tambahan kapasitas 300 MW juga dinilai akan memperkuat cadangan daya Kalimantan.
Keberadaan pembangkit baru memungkinkan sistem memiliki ruang cadangan yang lebih besar ketika terjadi pemeliharaan pembangkit maupun gangguan jaringan.
Saat ini sistem kelistrikan Kalimantan memang masih memiliki surplus daya. Namun menurut Yun, kondisi tersebut perlu dilihat dalam perspektif jangka panjang.
Baca Juga: Jelang Iduladha, Pengawasan Distribusi BBM di Berau Diperketat, Pertamina Pastikan Stok Aman
Pembangunan IKN, pertumbuhan kota-kota besar, serta ekspansi kawasan industri diperkirakan akan mendorong kebutuhan listrik meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
“Kita memang terlihat surplus saat ini. Tapi kalau melihat kebutuhan jangka panjang akibat IKN dan pertumbuhan ekonomi, tambahan pembangkit seperti ini tetap diperlukan untuk menjaga keandalan sistem,” katanya.
Meski demikian, ia mengingatkan pembangunan PLTA harus diawasi secara ketat sejak tahap perencanaan hingga konstruksi.
Menurutnya, kesalahan desain, perubahan spesifikasi akibat tekanan biaya, maupun lemahnya pengawasan proyek dapat memengaruhi kinerja pembangkit dalam jangka panjang.
“Yang paling penting adalah kualitas desain, turbin, generator dan bangunan utamanya harus tetap dijaga. Jangan sampai ada pengurangan kualitas yang justru mengurangi umur dan keandalan pembangkit,” tegasnya.
Terkait dampak lingkungan, Yun menilai seluruh proyek energi memiliki konsekuensi terhadap lingkungan, termasuk PLTA.
Namun jika dibandingkan dengan pembangkit berbahan bakar fosil, PLTA tidak menghasilkan emisi asap, debu maupun limbah pembakaran yang menjadi sumber pencemaran udara.
“Kalau bicara perubahan lingkungan pasti ada pada setiap proyek pembangunan. Tetapi yang perlu dilihat adalah manfaat jangka panjangnya. PLTA tidak menghasilkan emisi seperti pembangkit berbahan bakar fosil dan itu menjadi salah satu keunggulannya,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.