KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Kemenkes RI dijadwalkan menerjunkan tim khusus untuk mengaudit menyeluruh layanan intervensi jantung RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda. Respons itu menyusul dugaan tertinggalnya kawat medis (wire) sepanjang 2 sentimeter di pembuluh darah utama pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim dr Jaya Mualimin membenarkan rencana intervensi pusat tersebut setelah komite medik internal membekukan kewenangan klinis dokter operator selama enam bulan. Kasus ini mencuat ke publik usai keluarga pasien (EW) mencurigai pemberian resep obat pereda nyeri jenis morfin pascaoperasi ring jantung di Samarinda.
Keluarga pasien lalu menyewa pesawat khusus (charter) menuju Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena Singapura, hanya untuk menemukan fakta fatal adanya patahan alat yang dipaksa tarik hingga menyumbat arteri utama Left Anterior Descending (LAD).
Jaya Mualimin mengatakan, Kemenkes akan melakukan evaluasi terhadap layanan tindakan jantung di rumah sakit terbesar di Kaltim itu. Kata dia, pengawasan terhadap rumah sakit bertujuan memastikan seluruh pelayanan kesehatan berjalan sesuai standar, terutama prinsip keselamatan pasien (patient safety).
"Pelayanan rumah sakit harus mengutamakan keselamatan pasien, tidak menimbulkan cedera, dan memberikan layanan yang bermutu. Kalau ada kejadian yang berpotensi menimbulkan risiko atau masalah pelayanan, tentu ada prosedur dan mekanisme evaluasi yang harus dijalankan," kata Jaya, Selasa (2/5/2026).
Dia menjelaskan, setiap rumah sakit memiliki sejumlah perangkat pengawasan internal, mulai dari Komite Medik, Komite Etik, hingga Satuan Pengawas Internal (SPI). Karena kasus ini telah menjadi perhatian publik, Dinkes Kaltim juga aktif berkoordinasi dengan pihak rumah sakit untuk memastikan penanganan kasus berjalan transparan dan menjawab keluhan masyarakat.
"Yang kami tekankan kepada rumah sakit adalah prosesnya harus cepat, terbuka, dan apa yang menjadi pertanyaan masyarakat bisa dijelaskan dengan baik," ujarnya. Jaya menambahkan, AWS telah melakukan audit internal melalui Komite Medik dan Komite Etik. Berdasarkan hasil yang telah diumumkan rumah sakit, dokter yang melakukan tindakan pemasangan wire dan ring jantung untuk sementara dibekukan kewenangannya selama enam bulan sambil menunggu proses evaluasi lanjutan.
Kendati demikian, pihaknya menegaskan kunjungan Kemenkes bukan merupakan investigasi khusus terhadap individu tertentu. Kegiatan tersebut lebih berfokus pada evaluasi layanan melalui metode Root Cause Analysis (RCA) atau analisis akar masalah.
"Tujuannya untuk melihat apa penyebab utamanya, apakah terkait kompetensi sumber daya manusia, sistem pelayanan, kelelahan kerja, atau faktor lainnya. Dari situ nanti bisa diketahui titik yang perlu diperbaiki agar kejadian serupa tidak terulang," jelasnya.
KRONOLOGI DUGAAN TERTINGGALNYA KAWAT MEDIS DI PEMBULUH DARAH
Tepat pada Kamis, 19 Februari 2026, pasien berinisial EW mengalami rasa nyeri dibagian dadanya. Pasien tersebut kemudian dibawa oleh DW–anak dari EW–didampingi keluargnya ke RSUD AWS. Menggunakan jalur mandiri, tujuang sang anak agar mendapat tindakan medis secara cepat.
“Pada saat itu dokter melakukan prosedur kateter dan dilanjutkan dengan pemasangan ring,” ucap DW. Untuk diketahui, kateterisasi jantung adalah prosedur medis non-bedah untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit jantung.
Dokter memasukkan selang tipis fleksibel (kateter) melalui pembuluh darah di pergelangan tangan atau pangkal paha menuju jantung. Prosedur ini umumnya berlangsung 30–60 menit. Sementara pemasang ring (cincin) jantung, atau stent, adalah prosedur medis minimal invasif untuk membuka penyumbatan pembuluh darah arteri koroner.
Nah, keluarga pasien sempat bingung ketika dokter mengambil tindakan medis pemasangan ring. Kebingungan itu ketika DW berkonsultasi dengan dokter di Singapura yang kebetulan keluarganya. Hasil dari konsultasi itu diarahkan untuk dilakukan angioplasti (balon).
Untuk pemasangan rin, kata DW, rencananya dilakukan nanti di Rumah Sakit Mount Elizabeth Novena Singapura. “Usai operasi pemasangan ring keluarga sudah merasa tenang, karena dokter di RSUD AWS menyatakan kondisi ayah saya sudah baik,” ungkap DW.
Singkat cerita, ayah DW–EW–kembali merasakan nyeri dibagian dada. Rasa itu muncul ketika melakukan tindakan cuci darah rutin. Kondisi itu awalnya dicurigai karena efek setelah operasi yang belum lama dijalani. Sebab, pihak rumah sakit juga memberikan obat setelah proses operasi selesai. Di sisi lain, pihak pasien menaruh kecurigaan lantaran obat yang diberikan tak seperti biasanya.
DW menyebut obat yang diresepkan jenis Morfin (obat pereda nyeri). Bukan obat pengencer darah yang biasanya diberikan ketika operasi sukses sehingga aliran darah lancar. “Ini membuat kami curiga ada sesuatu yang tidak beres. Akhirnya kami membawa ayah ke Singapura menggunakan pesawat charter,” tutur DW.
Lalu, pada 21 Februari 2026, keluarga memesan tiket dari Balikpapan ke Singapura yang dipesan secara pribadi (pesawat khusus). Mereka bertolak ke Mount Elizabeth Novena Singapura. Di sana, ayah DW ditanganid an dilakukan pemeriksaan. Hasilnya, pihak dokter melaporkan kepada keluarga pasien, bahwa telah ditemukan sebuah kawat (wire) di dalam pembuluh darah utama (arteri LAD) jantung.
“Dari penjelaskan dokter di sana (Singapura), saat pemasangan stent, stent baru bertabrakan dengan stent lama sehingga bentuknya tidak karuan. Dokter di sini (RSUD AWS) menarik paksa, namun kawat sepanjang sekitar 2 cm tertinggal dan menyebabkan pembuntuan di arteri utama (LAD). Itulah yang membuat ayah saya merasakan nyeri. Belum lagi dugaan adanya ukuran ring yang sesuai saat itu tidak tersedia di AWS, tapi tindakan tetap dilakukan dengan ukuran yang ada,” tutur DW. “Dokter di Singapura menjelaskan bahwa ada kawat yang tertinggal, sementara keluarga sama sekali tidak tahu sehingga sempat shock,” urai DW. (riz)
Editor : Muhammad Rizki