TENGGARONG — Rita Widyasari menangis saat melihat spanduk bertuliskan “Bunda Rita Kukar Idaman Lagi” terbentang di Tenggarong. Mantan Bupati Kutai Kartanegara itu mengaku tidak menyangka kepulangannya disambut banyak warga setelah nyaris sembilan tahun terpisah dari daerah kelahirannya.
Rita kembali tiba di Tenggarong pada Jumat sore, 12 Juni 2026, setelah bebas dari penjara pada 2025 lau. Saat memasuki Kukar, ia disambut warga yang menunggu dan mengiringi perjalanannya. Momen itu disebut Rita sebagai hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Terharu, apalagi tadi pas melewati jembatannya. Saya pikir enggak banyak orang yang menunggu, eh ternyata banyak yang menyambut dan mengiringi. Alhamdulillah, luar biasa. Jujur, itu enggak terbayangkan oleh saya,” kata Rita saat tiba kembali di Tenggarong.
Rasa haru itu bertambah ketika Rita melihat sejumlah spanduk penyambutan di sepanjang perjalanan. Salah satunya berisi tulisan “Bunda Rita Kukar Idaman Lagi”. Kalimat itu mengingatkannya pada masa ketika ia memimpin Kutai Kartanegara.
“Tadi saya lihat ada spanduk-spanduk dan tulisan Bunda Rita Kukar Idaman lagi. Aduh, sedih rasanya. Saya sampai nangis,” ujarnya.
Bagi Rita, kepulangan ke Tenggarong bukan sekadar kembali ke rumah lama. Ia menyebut daerah itu sebagai tanah kelahiran yang telah lama ia tinggalkan selama menjalani hukuman.
“Aku kan lahir di sini. Sudah lama sekali enggak tinggal di rumah ini. Jadi saya mau lihat-lihat dulu. Saya masih punya aset dan sebagainya di sini. Sementara ini saya mau di sini dulu, istirahat dulu sambil melihat situasi,” ucapnya.
Rita juga mengaku senang melihat wajah Tenggarong saat ini. Ia menyinggung salah satu kawasan yang dulu sempat ia bongkar ketika menjabat bupati. Menurutnya, kawasan itu memang pernah ia bayangkan menjadi ruang publik dan tempat warga berkumpul.
“Saya senang lihat Tenggarong sekarang. Dulu kan saya yang membongkar kawasan itu. Cita-cita saya memang membuat begitu, buat tempat nongkrong. Alhamdulillah sekarang sudah jadi, bagus dan keren,” katanya.
Setelah kembali, Rita menyebut ingin lebih dulu bertemu keluarga dekat. Ia juga berencana berziarah ke makam ayah dan adiknya. Selama menjalani masa tahanan, ia mengaku banyak kehilangan kabar keluarga.
“Saya mau ke kuburan bapak dan adik saya. Banyak keluarga yang meninggal selama saya menjalani masa tahanan. Bahkan ada yang baru saya tahu hari ini setelah pulang,” tuturnya.
“Karena saya memang terputus hubungan dengan keluarga. Saya tahunya dari berita-berita,” lanjut Rita.
Di antara banyak hal yang ia rindukan dari Tenggarong, Rita menyebut Bakso GLG. Makanan itu, katanya, punya kenangan khusus sejak masa mudanya.
“Yang paling saya kangen itu bakso GLG. Dulu waktu umur 17 tahun, ulang tahun saya di rumah ini dan makanannya bakso GLG. Saya bisa tiga kali makan bakso,” ucapnya.
Rita bahkan berseloroh dirinya seperti endorser Bakso GLG sejak dulu. Ia mengaku mengenal baik pemilik usaha bakso tersebut.
“Saya ini kayak endorser-nya bakso GLG dari bapaknya. Saya kenal baik sama yang punya,” katanya.
Selain bakso, Rita juga merindukan makanan khas Kutai. Ia menyebut cempedak saleh, labu, dan berbagai makanan daerah lain yang lekat dengan masa kecilnya.
“Saya memang orang Kutai. Saya lahir di Jalan Mawar. Saya benar-benar lahir orang Kutai,” ujar Rita.
“Ibu saya kan turunan Dayang. Jadi saya memang kangen dengan segala makanan sini. Kangen cempedak saleh, kangen labu dan makanan-makanan khas lainnya,” tambahnya.
Kepulangan Rita langsung memunculkan spekulasi soal kemungkinan dirinya kembali ke dunia politik. Namun, Rita menegaskan belum ingin membicarakan hal tersebut. Ia mengaku ingin beristirahat lebih dulu.
“Waduh, saya mau istirahat dulu. Aku ini dimusuhin orang banyak sekali. Pokoknya sekarang saya mau istirahat dulu, lihat-lihat aset dan berdoa,” katanya.
“Kalau urusan politik, saya enggak mau dulu. Malas, capek saja,” lanjutnya. Rita juga menyebut masih memiliki agenda pemeriksaan di Komisi Pemberantasan Korupsi. Karena itu, ia memilih sementara menetap di Kukar sambil melihat situasi.
“KPK juga masih ada pemeriksaan. Jadi sementara ini saya menetap di sini dulu,” ucap Rita. Dalam wawancara tersebut, Rita turut menyinggung perkara hukum yang pernah menjeratnya. Ia menyebut membuat akun media sosial karena ingin memberi penjelasan kepada publik. Rita mengklaim ada hal yang ia anggap sebagai kriminalisasi dalam kasus yang membuatnya dipenjara.
“Makanya saya buat akun itu. Saya ingin menjelaskan juga bahwa ada yang saya anggap sebagai kriminalisasi. Dari awal saya bilang di sidang, saya tidak pernah disebut menerima satu rupiah pun,” katanya.
Rita juga mengaku sempat merasa takut menjelang kebebasannya. Ia menyebut butuh waktu untuk menata kembali hidup setelah hampir sembilan tahun berada di penjara.
“Coba kamu masuk penjara hampir sembilan tahun, terus bebas, bingung enggak?” ujarnya. Ia juga menyatakan sejak awal ingin proses hukum terhadap dirinya digelar di Kalimantan Timur. Menurut Rita, ia merasa lebih dekat dengan masyarakat Kutai.
“Saya bilang sama penyidik, saya pengennya kalau pemeriksaan di sini. Dari dulu saya pengennya sidang di Kalimantan Timur karena saya merasa dekat dengan rakyat Kutai. Tapi sidangnya di Jakarta dan saya ditahan di sana,” tuturnya.
Selama menjalani hukuman, Rita mengaku pernah berada di beberapa rutan dan lapas. Ia menyebut tetap menjalani masa hukuman dengan olahraga dan berdoa.
“Saya mengalami beberapa rutan dan lapas. Tapi saya jalani saja. Saya olahraga, berdoa dan sebagainya,” katanya.
Rita mengaku kondisi kesehatannya kini lebih baik dibandingkan sebelum menjalani masa tahanan. Ia bahkan membawa alat olahraga dalam koper saat pulang.
“Aku lebih sehat dibandingkan dulu. Sekarang aku olahraga hampir setiap hari. Bahkan satu koper saya itu isinya alat olahraga,” ujarnya.
“Aku instruktur,” tambahnya.nRita juga menyinggung Tim 11 yang sempat disebut dalam persidangan. Ia mengaku tidak memahami sepenuhnya keberadaan tim tersebut, tetapi menyebut sejumlah pihak pernah dihadirkan dalam sidang.
“Saya juga enggak ngerti Tim 11. Tapi di dalam sidang yang pertama itu ada dihadirkan dan disebut Tim 11,” katanya. Menurut Rita, sejumlah nama yang muncul dalam persidangan tidak menyebut pernah memberikan uang kepadanya.
“Chairuddin dan Junaidi mengatakan tidak memberikan kepada saya. Tidak satu pun pengusaha maupun mereka yang mengatakan memberikan kepada saya,” ucapnya.
Meski menyampaikan bantahan dan keberatan atas proses hukum yang ia jalani, Rita merupakan mantan kepala daerah yang pernah divonis bersalah dalam perkara korupsi. Catatan hukum itu tetap melekat pada kepulangannya ke Kukar, di tengah sambutan warga dan simpatisan yang menunggu kedatangannya.
Untuk sementara, Rita menyatakan ingin memulai kepulangannya dari keluarga. Setelah itu, ia tidak menutup kemungkinan bertemu tokoh dan kawan-kawan lama di Kukar.
“Pertama saya mau ketemu keluarga dulu. Saya sudah lama enggak ketemu keluarga dekat,” ujarnya. “Kalau tokoh-tokoh atau kawan-kawan lama yang mau ketemu, pasti saya temui. Saya memang siapa? Bukan siapa-siapa,” pungkas Rita. (qi/riz)
Editor : Muhammad Rizki