Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Efisiensi Anggaran, Tiket Pesawat Mahal, dan Lesunya Aktivitas IKN Jadi Pemicu Okupansi Hotel di Kaltim Turun 35 Persen

Muhammad Ridhuan • Minggu, 14 Juni 2026 | 07:07 WIB
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kaltim Sahmal Ruhip.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kaltim Sahmal Ruhip.

KALTIMPOST.ID-Industri perhotelan di Kaltim tengah menghadapi tekanan berat. Penurunan aktivitas perjalanan dinas pemerintah, melambatnya pergerakan ekonomi, tingginya harga tiket pesawat, hingga berkurangnya kunjungan yang berkaitan dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) membuat tingkat hunian hotel merosot dalam beberapa bulan terakhir.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kaltim Sahmal Ruhip mengatakan rata-rata okupansi hotel saat ini hanya berkisar 30 hingga 35 persen. Angka tersebut jauh di bawah kondisi saat aktivitas pembangunan IKN sedang berada pada fase puncak.

Menurutnya, hampir seluruh hotel merasakan dampak yang sama, meski beberapa hotel yang berada di pusat perbelanjaan atau lokasi strategis masih mampu mempertahankan tingkat hunian lebih baik dibanding hotel lainnya.

“Kondisi saat ini memang berat. Okupansi rata-rata hanya sekitar 30 sampai 35 persen. Hanya beberapa hotel tertentu yang masih relatif lebih baik karena berada di lokasi strategis,” ujarnya kepada Kaltim Post, Jumat (12/6).

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Pengamat Sebut Danantara Berpotensi Perkuat Pengawasan Ekspor SDA, Kunci Suksesnya Ada di Regulasi

Sahmal menilai kondisi tersebut tidak bisa dilepaskan dari kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak pada berkurangnya kegiatan rapat, pertemuan, dan perjalanan dinas yang selama ini menjadi salah satu sumber utama tamu hotel.

Selain itu, melambatnya aktivitas di kawasan IKN turut memengaruhi arus kunjungan ke Balikpapan. Jika sebelumnya berbagai agenda pembangunan menghadirkan banyak pekerja, konsultan, maupun pejabat pemerintah ke daerah ini, kini intensitas kunjungan tersebut berkurang.

“Dulu banyak kegiatan yang berkaitan dengan IKN sehingga tingkat kunjungan ke Balikpapan cukup tinggi. Sekarang aktivitas itu tidak seramai sebelumnya sehingga otomatis berpengaruh terhadap hotel,” katanya.

Di sisi lain, tingginya harga tiket pesawat juga dinilai menjadi hambatan bagi mobilitas masyarakat maupun pelaku usaha. Kondisi tersebut membuat perjalanan bisnis maupun wisata menjadi lebih mahal sehingga berdampak pada jumlah tamu yang datang ke Kaltim.

Menurut Sahmal, perlambatan yang terjadi saat ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor ekonomi yang saling berkaitan.

Kenaikan harga bahan bakar, melemahnya daya beli masyarakat, hingga meningkatnya biaya operasional membuat aktivitas perjalanan tidak lagi seintensif beberapa tahun terakhir.

Meski muncul kabar sejumlah hotel mulai membuka opsi penjualan aset, PHRI menilai fenomena tersebut belum bisa dijadikan indikator krisis menyeluruh di sektor perhotelan.

Baca Juga: Balikpapan Jadi Tuan Rumah IEE Series 2026, Bakal Hadirkan Pameran Internasional Tambang, Migas, dan Konstruksi di BSCC Dome

Dengan jumlah hotel yang cukup banyak di Balikpapan maupun daerah lain di Kaltim, pergerakan bisnis semacam itu masih dianggap sebagai bagian dari dinamika usaha.

“Kalau ada beberapa hotel yang ingin dijual, itu masih sesuatu yang wajar dalam dunia usaha. Belum tentu juga langsung terjual karena kondisi investasi saat ini juga sedang tidak mudah,” ujarnya.

Sahmal menambahkan tantangan terbesar justru terletak pada minimnya perputaran uang di masyarakat. Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat investor cenderung berhati-hati, sementara pelaku usaha fokus menjaga keberlangsungan operasional.

Meski demikian, PHRI belum melihat adanya ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor perhotelan.

Sejauh ini, sebagian besar hotel lebih memilih melakukan efisiensi melalui pengurangan jam kerja atau penyesuaian jadwal kerja karyawan dibanding melakukan PHK permanen.

“Kalau pengurangan jam kerja memang ada di beberapa tempat, tetapi untuk PHK massal kami berharap tidak sampai terjadi. Hotel-hotel masih berupaya bertahan dengan berbagai cara,” katanya.

Ke depan, PHRI berharap pemerintah dapat memperbanyak penyelenggaraan kegiatan berskala nasional maupun regional di Kaltim.

Event olahraga, festival, pameran, hingga kegiatan pemerintahan dinilai dapat menjadi pengungkit untuk meningkatkan tingkat hunian hotel sekaligus menggerakkan sektor ekonomi lainnya.

“Bagi industri perhotelan, pemulihan tidak hanya bergantung pada wisatawan, tetapi juga pada pergerakan aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Selama mobilitas masyarakat dan kegiatan bisnis belum kembali meningkat, sektor ini diperkirakan masih akan menghadapi tantangan yang tidak ringan hingga beberapa waktu ke depan,” urainya. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #efisiensi anggaran #okupansi hotel #ibu kota nusantara #Kutai Barat