KALTIMPOST.ID,TEHRAN–Pemerintah Iran akhirnya mengumumkan jadwal resmi prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Berdasarkan laporan media resmi pemerintah yang dikutip dari Reuters, Minggu (14/6), seluruh rangkaian upacara berkabung akan dimulai di ibu kota Tehran pada 4 Juli dan diakhiri dengan prosesi pemakaman di kota suci Mashhad pada 9 Juli 2026 mendatang.
Pengumuman ini sekaligus mengakhiri ketidakpastian selama lebih dari 100 hari mengenai nasib jenazah sang pemimpin. Ali Khamenei tewas dalam serangan udara gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat (AS) ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu. Kematiannya menandai berakhirnya era kekuasaan Khamenei yang telah menakhodai Republik Islam tersebut selama lebih dari tiga dekade.
Baca Juga: Kesal Tak Diberi Uang, Pemuda di Pati Nekat Bakar Rumah Orang Tua
Berdasarkan jadwal yang dirilis oleh otoritas Iran, rangkaian upacara penghormatan terakhir ini sengaja digelar selama bulan Muharram, yang merupakan masa berkabung tradisional dalam kalender Islam Syiah.
Prosesi akan diawali dengan upacara selama tiga hari di Tehran mulai 4 Juli, dilanjutkan dengan upacara keagamaan di kota suci Qom pada 7 Juli, sebelum akhirnya jenazah diterbangkan ke kota kelahirannya di Mashhad untuk dimakamkan di Kompleks Makam Imam Reza pada 9 Juli.
Baca Juga: Grup D Piala Dunia 2026, Efektivitas Socceroos Rusak Momen Comeback Turki
Penundaan pemakaman hingga mencapai waktu 131 hari ini terbilang sangat tidak biasa dalam tradisi Islam, yang umumnya mewajibkan jenazah segera dikebumikan. Namun, otoritas terkait menjelaskan bahwa pengecualian tersebut terpaksa diambil akibat situasi perang, pertimbangan faktor keamanan yang ketat, serta proses transisi kekuasaan kepada sang anak, Mojtaba Khamenei, yang kini ditunjuk sebagai penerusnya.
Menariknya, momentum pengumuman jadwal pemakaman ini bertepatan dengan adanya sinyal kemajuan dalam pembicaraan damai antara Iran dan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik. Mediator internasional menyebutkan kedua belah pihak tengah mendekati kesepakatan gencatan senjata dalam beberapa hari ke depan, termasuk rencana pembukaan kembali jalur perdagangan di Selat Hormuz.(*)
Editor : Thomas Priyandoko