KALTIMPOST.ID - Intelijen AS tengah menyelidiki kesaksian seorang pilot jet tempur F-15E yang mengaku melihat drone Iran bergerak dalam formasi menyerupai ubur-ubur sesaat sebelum pesawatnya ditembak jatuh pada April lalu. Laporan tersebut memicu perhatian serius karena diduga menunjukkan kemampuan baru yang dimiliki Iran dalam penggunaan drone di medan tempur.
Menurut sejumlah pejabat intelijen Amerika Serikat yang dikutip CNN, pilot yang selamat dari insiden itu menggambarkan adanya sekelompok drone milik Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang bergerak secara terkoordinasi dengan pola yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Temuan ini kini menjadi salah satu fokus penyelidikan komunitas intelijen AS.
“Beberapa drone saling terhubung dan bergerak serempak, drone yang lebih kecil di bawah drone yang lebih besar seperti kaki. Benar-benar seperti makhluk asing,” kata seorang sumber pejabat intelijen yang mendengar langsung kesaksian pilot tersebut, dikutip Kamis (25/6).
Laporan awal penyelidikan menyebutkan bahwa formasi drone yang dilihat pilot kemungkinan memiliki keterkaitan dengan jatuhnya jet tempur F-15E milik AS. Beberapa pejabat bahkan menggambarkan pola pergerakan drone tersebut sebagai semacam "ladang ranjau drone" di udara yang mampu membingungkan pesawat lawan.
Baca Juga: Lebih Horor dari Iran, Media Israel Ungkap Negara Ini Jadi Ancaman Terbesar Baru!
Kesaksian pilot tersebut menimbulkan perdebatan di kalangan intelijen dan militer AS. Jika informasi itu terbukti akurat, maka Iran dinilai telah mengembangkan taktik atau teknologi drone yang jauh lebih maju dibandingkan yang selama ini diketahui publik.
Pilot F-15E itu berhasil menyelamatkan diri menggunakan kursi lontar sebelum pesawatnya jatuh di wilayah Iran. Rekannya yang bertugas sebagai operator sistem senjata juga selamat, meski proses penyelamatan berlangsung dalam kondisi yang sulit.
Presiden Donald Trump menyebut operasi penyelamatan kedua awak pesawat tersebut sebagai salah satu misi evakuasi terbesar yang pernah dilakukan AS di wilayah musuh. Pilot ditemukan beberapa jam setelah insiden terjadi, sementara operator sistem senjata harus bertahan dengan bersembunyi di pegunungan selama lebih dari satu hari sebelum berhasil dievakuasi.
Meski laporan tersebut menarik perhatian besar, tidak semua pejabat intelijen AS menerima kesaksian itu tanpa keraguan. Sejumlah pihak menilai kondisi fisik pilot setelah insiden bisa memengaruhi pengamatannya.
Salah satu alasan munculnya keraguan adalah kemungkinan pilot mengalami gegar otak akibat kejadian yang menyebabkan pesawatnya jatuh. Selain itu, pilot yang sama diketahui pernah mengalami insiden serupa sebelumnya ketika pesawat yang diterbangkannya ditembak secara tidak sengaja oleh sistem pertahanan udara Kuwait yang salah mengidentifikasi target.
Di sisi lain, komunitas intelijen AS tetap menilai laporan tersebut layak diteliti lebih lanjut. Hingga kini belum ada penjelasan pasti mengenai apakah drone yang disebut berbentuk ubur-ubur itu benar-benar merupakan teknologi baru, taktik perang drone terbaru, atau hanya kesalahan persepsi akibat situasi pertempuran.
Tidak lama setelah insiden F-15E, Iran juga dilaporkan berhasil menembak jatuh pesawat serang A-10 milik AS di atas laut. Namun pilot A-10 dapat diselamatkan lebih cepat karena berhasil mendarat di luar wilayah Iran setelah melontarkan diri dari pesawatnya.
Sampai saat ini, misteri formasi drone Iran yang digambarkan menyerupai ubur-ubur masih menjadi salah satu topik yang terus diteliti oleh komunitas intelijen Amerika Serikat. Hasil penyelidikan tersebut dinilai penting untuk mengetahui apakah Iran benar-benar memiliki kemampuan drone baru yang dapat mengubah pola pertempuran udara modern.***
Editor : Dwi Puspitarini