Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Harga Pertamax Naik, Ongkos Distribusi Mengancam Kenaikan Kebutuhan Dapur Warga Kaltim

Eko Pralistio • Selasa, 30 Juni 2026 | 17:58 WIB
Di Kalimantan Timur, kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax diperkirakan akan ikut mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang setiap hari dibeli masyarakat. (FOTO/RAMA SITOHANG)
Di Kalimantan Timur, kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax diperkirakan akan ikut mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang setiap hari dibeli masyarakat. (FOTO/RAMA SITOHANG)
KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax bukan hanya berdampak pada pengendara. Di Kalimantan Timur, kebijakan itu juga diperkirakan akan ikut mendorong kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang setiap hari dibeli masyarakat.

Sebab, hampir semua barang yang masuk ke Kaltim bergantung pada biaya distribusi. Ketika ongkos angkut naik akibat harga BBM yang lebih mahal, harga barang di tingkat konsumen pun berpotensi ikut terdorong.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPPKUKM) Kaltim, Heni Purwaningsih mengatakan, kondisi inflasi di Kaltim sebenarnya relatif stabil sebelum harga Pertamax mengalami penyesuaian. Namun, stabil bukan berarti harga kebutuhan pokok sedang murah.

"Inflasi itu mengukur naik-turunnya harga. Sebelum BBM naik, inflasi Kaltim memang relatif stabil, tetapi harga barang sudah berada di level yang tinggi. Jadi inflasi rendah bukan berarti harga kebutuhan pokok murah, melainkan kenaikan harganya tidak terlalu besar," kata Heni, Senin (29/6/2026).

Menurut Heni, kenaikan harga BBM akan mengubah kondisi tersebut. Biaya distribusi diperkirakan ikut meningkat sehingga berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas dan mendorong inflasi lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Baca Juga: Gratispol Dibatalkan Sepihak, LBH Samarinda Beri Waktu Sepekan Sebelum Gugat Pemprov Kaltim

Sebab, lanjut dia, hampir seluruh kebutuhan masyarakat di Kaltim didistribusikan menggunakan transportasi darat, laut, maupun udara. Sedangkan seluruh moda transportasi itu bergantung pada BBM. 

"Kalau biaya transportasi naik, otomatis ongkos distribusi barang juga ikut naik. Pada akhirnya harga yang dibayar masyarakat juga akan ikut terpengaruh," ujarnya.

Kondisi itu semakin terasa karena Kaltim masih bergantung pada pasokan dari luar daerah untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan pokok. Mulai dari bahan pangan hingga berbagai komoditas lainnya harus didatangkan dari provinsi lain sebelum sampai ke tangan konsumen.

"Sebagian besar kebutuhan pokok kita dipasok dari luar Kaltim. Untuk sampai ke sini tentu membutuhkan transportasi, dan transportasi menggunakan BBM. Jadi kenaikan harga BBM pasti memberi dampak terhadap harga barang," jelas Heni.

Kendati begitu, DPPKUKM belum bisa memastikan seberapa besar kenaikan inflasi setelah penyesuaian harga BBM tersebut. Dampaknya baru akan terlihat melalui data inflasi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Selain faktor distribusi, Heni menilai pergerakan harga juga dipengaruhi kondisi ekonomi global. Dinamika geopolitik hingga fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat turut memberi tekanan terhadap harga berbagai komoditas yang masuk ke Indonesia, termasuk Kalimantan Timur.

Baca Juga: Harga Pertamax Belum Turun, Bahlil Minta Publik Bersikap Adil soal Evaluasi BBM

"Kondisi itu juga berkaitan dengan situasi global. Dinamika geopolitik dan nilai tukar dolar yang ikut memberi tekanan terhadap harga dadi beragam komoditas," pungkasnya. Diberitakan sebelumnya, Anggota Komisi XII DPR RI, Syafruddin, sudah mewanti-wanti dampak dari kenaikan BBM tersebut.

Anggota DPR RI Syafruddin
Anggota DPR RI dapil Kaltim dari Fraksi PKB, Syafruddin.

 Pihaknya meminta seluruh elemen, mulai dari pemerintah, mahasiswa, aktivis, hingga masyarakat umum untuk mengawasi pergerakan harga kebutuhan pokok di pasaran.  Sebab, menurut dia, tidak ada alasan untuk menaikkan harga bahan pangan hanya karena harga Pertamax naik.

Distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok umumnya disebut menggunakan kendaraan berbahan bakar solar. "Saya mendorong semua pihak mengawasi harga-harga kebutuhan dapur. Jangan sampai ada pihak yang memanfaatkan situasi ini untuk menaikkan harga secara tidak wajar," ujarnya.

Upaya Pemerintah Menekan Impor Minyak

Pada bagian lain, pria yang kerap disapa Bang Udin ini memberi kabar, bahwa pemerintah disebut terus mencari cara untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM.  Salah satunya melalui penerapan biodiesel B50 yang direncanakan mulai digunakan secara luas pada 1 Juli mendatang. "Ini salah satu upaya pemerintah untuk menekan impor BBM. Kita akan mulai menggunakan biosolar B50," katanya.

Kalau dihitung-hitung, lanjut dia, kebutuhan BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,67 juta barel per hari. Sementara kemampuan produksi minyak dalam negeri hanya sekitar 600 ribu barel per hari. "Artinya ada defisit sekitar 1 juta barel per hari yang harus dipenuhi dari impor. Di tengah harga minyak dunia dan dolar yang sama-sama naik, tentu ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah," jelasnya.

Oleh karenanya, dia mengajak kenaikan harga Pertamax ini dilihat secara objektif dan rasional. "Kalau yang dinaikkan Pertalite, tentu masyarakat dan saya berteriak, karena itu menyangkut kebutuhan mayoritas warga," timpalnya. "Tapi sampai hari ini pemerintah tetap mempertahankan harga BBM subsidi. Kenaikan Pertamax terjadi pun karena tekanan kondisi global," tambahnya mengakhiri. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#pertamax #bbm #harga pertamax