Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Rumah Anak SIGAP Dampingi Keluarga Selama Lima Tahun, Dorong Pola Asuh Positif untuk Generasi Berkualitas

Romdani. • Selasa, 30 Juni 2026 | 17:59 WIB
Rumah Anak SIGAP Kukar.
Rumah Anak SIGAP Kukar.

KALTIMPOST.ID-Peringatan Hari Keluarga Nasional menjadi momentum untuk kembali mengingat pentingnya peran keluarga sebagai fondasi utama tumbuh kembang anak.

Selama lima tahun terakhir, Rumah Anak SIGAP hadir sebagai ruang belajar berbasis komunitas yang mendampingi orang tua dan anak usia dini melalui edukasi pengasuhan, diskusi, serta aktivitas bermain yang memperkuat hubungan keluarga.

Program tersebut tidak hanya menjadi wadah berbagi pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan pola asuh di tengah masyarakat.

Salah satu kisah datang dari Rusyamtini, fasilitator Rumah Anak SIGAP di Kutai Kartanegara (Kukar), yang telah mendampingi keluarga sejak 2021.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Anggota Dewan Sebut Perang Melawan Narkoba Tak Cukup dengan Penindakan, Pencegahan Harus Dimulai dari Keluarga

Awalnya, Rusyamtini bergabung karena ingin belajar sekaligus berkontribusi bagi lingkungan sekitar. Namun, perjalanan itu justru membawanya memahami bahwa mendampingi keluarga juga menjadi proses pembelajaran bagi dirinya sendiri. Hingga kini, ia tetap aktif mendampingi para ibu dan anak di wilayahnya.

Menurutnya, selama lima tahun terakhir terlihat perubahan pola pengasuhan di masyarakat. Orangtua yang sebelumnya lebih mengedepankan cara mendidik dengan pendekatan keras mulai beralih pada pola asuh yang lebih penuh perhatian, empati, dan responsif terhadap kebutuhan anak.

Perjalanan Rumah Anak SIGAP juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Saat pandemi COVID-19 melanda, kegiatan harus menyesuaikan dengan berbagai pembatasan sehingga jumlah peserta yang mengikuti program masih sangat terbatas.

“Waktu itu serba dibatasi, tapi semangat kami tetap ada. Sedikit demi sedikit, kegiatan berjalan,” kenang Rusyamtini.

Kondisi tersebut justru semakin menguatkan keyakinannya bahwa keluarga tetap membutuhkan ruang belajar. Sebab, proses pengasuhan anak tidak pernah berhenti meski berada dalam situasi sulit.

Melalui pelatihan fasilitator yang diselenggarakan Tanoto Foundation, Rusyamtini memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya peran keluarga, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan (HPK). Masa tersebut dinilai menjadi fase penting dalam menentukan kualitas tumbuh kembang anak.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Peredaran Narkoba di Kaltim Sulit Diberantas, Pengamat Hukum Minta Aparat Bongkar Sindikat hingga Putus Aliran Dana

Ia mengaku belajar bahwa mendidik anak tidak hanya berkaitan dengan aturan dan disiplin, tetapi juga membangun kedekatan emosional, komunikasi yang baik, serta rasa aman dalam keluarga.

“Dari sini saya benar-benar belajar bagaimana cara mendidik dan mengasuh anak. Ilmunya tidak hanya dipakai saat mendampingi ibu-ibu, tapi juga di rumah,” ujarnya.

Menurutnya, menjadi orangtua membutuhkan bekal pengetahuan yang memadai. Pendidikan formal saja belum tentu cukup tanpa memahami perkembangan anak dan kebutuhan emosional mereka pada setiap tahap usia.

Sebagai fasilitator yang berinteraksi langsung dengan masyarakat, Rusyamtini menyaksikan semakin banyak orang tua yang memahami pentingnya pengasuhan positif. Kesadaran itu perlahan mengubah cara mereka mendidik anak.

“Sekarang ibu-ibu sudah tahu kalau mendidik anak itu tidak perlu memukul. Ada yang sampai bilang, ‘Kenapa baru tahu sekarang?’,” katanya.

Melalui kegiatan Rumah Anak SIGAP yang dipadukan dengan layanan posyandu, keluarga tidak hanya memperoleh informasi mengenai kesehatan anak. Mereka juga memiliki ruang untuk bermain, berdiskusi, dan belajar bersama mengenai pola pengasuhan yang tepat.

Edukasi bahkan diberikan sejak masa kehamilan. Hal itu dilakukan karena membangun keluarga yang kuat dinilai harus dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan.

Di tengah masyarakat, Rumah Anak SIGAP juga kerap menimbulkan pertanyaan. Tidak sedikit warga yang bertanya, “Bayi kok sekolah?”

Rusyamtini menjelaskan, Rumah Anak SIGAP bukan sekolah formal. Program tersebut merupakan ruang belajar dan bermain bagi anak usia 0 hingga 36 bulan bersama orang tua.

Melalui aktivitas sederhana, anak belajar berinteraksi, sementara orang tua memahami bahwa setiap sentuhan, percakapan, dan permainan memiliki peran penting dalam perkembangan anak.

Baca Juga: 23 Semarang Shopping Center Raup 30 Ribu Pengunjung, Siapkan Event Rutin dan Konsep Pet Friendly Mall

Meski tantangan masih ada, terutama mengajak lebih banyak keluarga terlibat serta menjaga keberlanjutan peran kader, Rusyamtini tetap optimistis. 

Menurutnya, perubahan besar selalu diawali dari langkah-langkah kecil di dalam keluarga. “Kalau orangtua sudah paham cara mengasuh dengan baik, anak-anak akan tumbuh bahagia,” tuturnya.

Lima tahun perjalanan Rumah Anak SIGAP menjadi bukti bahwa investasi terbaik bagi masa depan bangsa dimulai dari keluarga.

Melalui pengasuhan yang penuh kasih, pengetahuan yang memadai, dan lingkungan yang mendukung, anak-anak diharapkan tumbuh menjadi generasi yang sehat, percaya diri, serta siap menghadapi tantangan masa depan. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #kutai kartanegara #rumah anak sigap #tanoto foundation #Kutai Barat