KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Sebuah potongan video yang memperlihatkan para peserta perempuan calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih melaksanakan salat berjamaah di tengah Latihan Dasar Militer (Latsmil) mendadak viral di media sosial. Unggahan tersebut memicu perdebatan hangat dan beragam tanggapan dari warganet.
Dalam video yang beredar luas tersebut, tampak para peserta perempuan tetap mengenakan seragam lapangan militer lengkap saat menunaikan ibadah. Salat berjamaah itu dilaksanakan langsung di area lapangan pendidikan tanpa berganti pakaian khusus, seperti mukena yang lazimnya digunakan perempuan Muslim di Indonesia.
Baca Juga: Jokowi Lanjut Safari Politik ke NTT dan Jawa Barat, PSI Ungkap Agenda Lengkap Kunjungan
Meski para peserta terlihat melaksanakan ibadah dengan khusyuk, sorotan tajam datang dari netizen terkait tata cara berpakaian. Sebagian warganet mempertanyakan kelayakan pakaian tersebut karena dianggap bukan dalam kondisi darurat (darurat perang). Mereka menilai pihak penyelenggara seharusnya bisa menyediakan atau memfasilitasi perlengkapan salat yang lebih sesuai. "Bukankah seharusnya ada waktu untuk berganti pakaian yang lebih longgar? Seragam latihan cenderung ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh," tulis salah satu komentar netizen yang menyoroti aspek syarat menutup aurat.
Tak hanya masalah estetika pakaian, netizen juga mempersoalkan kesucian (keabsahan) pakaian. Mengingat seragam tersebut telah digunakan untuk berbagai aktivitas fisik berat selama latihan militer, muncul keraguan apakah baju tersebut bebas dari najis.
Baca Juga: Warga PPU Harap Bersiap, BMKG Prakirakan Cuaca Berfluktuasi dari Kabut hingga Cerah Terik
Selain masalah busana, posisi imam salat tak luput dari koreksi fikih oleh warganet. Dalam rekaman tersebut, posisi imam perempuan tampak berada di barisan paling depan, layaknya imam laki-laki. Padahal, menurut sebagian besar netizen, saf imam perempuan semestinya berdiri sejajar di tengah-tengah makmum.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan ataupun klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara pelatihan mengenai ramainya sorotan terhadap tata cara ibadah para peserta tersebut. Sementara itu, video terkait masih terus bergulir dan memicu diskusi panjang di ruang publik.(*)
Editor : Thomas Priyandoko