KALTIMPOST.ID-Pemadaman bergilir mulai dirasakan masyarakat sejak penghujung Juni dan masih berlangsung hingga pekan ini. Hampir seluruh wilayah dalam sistem interkoneksi di Kaltim dan Kaltara terdampak.
Mulai Samarinda, Balikpapan, Bontang, Kutai Kartanegara (Kukar), Kutai Timur (Kutim), Berau hingga Penajam Paser Utara (PPU).
Di sejumlah kawasan, listrik dipadamkan selama sekitar dua hingga tiga jam dengan jadwal yang disesuaikan kondisi sistem kelistrikan.
Kondisi itu sangat dikeluhkan bagi warga Kaltim. Mengingat provinsi ini pernah mengalami krisis energi pada belasan tahun lalu.
Pemadaman bergilir dirasakan semua warga. Bahkan nyaris tiap hari listrik rumah warga biarpet. Tentu itu menjadi trauma yang cukup berkepanjangan bagi warga. Apalagi sebenarnya provinsi ini kaya akan energi.
Kini kondisinya sudah berbeda. Kapasitas listrik di Kaltim disebut telah surplus. Namun karena terdapat gangguan yang memaksa PLN melakukan pemadaman bergilir.
Situasi itu memunculkan berbagai spekulasi. Salah satunya menyebut pemadaman dipicu terganggunya pasokan batu bara untuk pembangkit, menyusul isu serupa yang sempat mencuat di Pulau Jawa. Namun, PT PLN (Persero) memastikan anggapan tersebut tidak benar.
“Kondisi ini tidak terkait dengan ketersediaan energi primer maupun batu bara, yang saat ini dalam kondisi aman,” tegas Pelaksana Harian (Plh) Manager Komunikasi dan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN UID Kaltim dan Kaltara Annisa Nabiha melalui keterangan resmi yang disampaikan kepada Kaltim Post, Rabu (1/7) lalu.
PLN menjelaskan, pemadaman yang terjadi merupakan bagian dari manajemen beban yang dilakukan secara terbatas dan terukur.
Langkah tersebut ditempuh setelah gangguan operasional pada unit pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) menyebabkan pasokan listrik ke sistem interkoneksi Kalimantan belum dapat beroperasi secara optimal.
Data yang dihimpun menunjukkan gangguan pada pembangkit tersebut membuat sistem kehilangan pasokan sekitar 250 megawatt (MW).
Defisit daya itu memaksa PLN melakukan pengaturan beban di hampir seluruh daerah yang terhubung dalam jaringan interkoneksi Kalimantan.
Karena berada dalam satu sistem, pemadaman tidak hanya dirasakan daerah yang dekat dengan lokasi pembangkit, tetapi juga menjangkau kota-kota lain, termasuk wilayah yang selama ini dikenal memiliki kapasitas pembangkit relatif besar seperti Bontang.
Meski demikian, PLN memastikan sistem kelistrikan Kalimantan secara umum masih berada dalam kondisi terkendali.
Pemadaman bergilir, menurut perusahaan, dilakukan agar keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik tetap terjaga sehingga tidak memicu gangguan yang lebih luas.
“Sistem kelistrikan Kalimantan saat ini beroperasi dan terkendali secara baik. Adanya padam di beberapa lokasi adalah sebagai langkah manajemen beban secara terbatas dan terukur untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan Kalimantan,” jelas Annisa.
PLN mengaku terus mengerahkan berbagai upaya untuk mempercepat pemulihan. Pasokan dari pembangkit lain dioptimalkan sembari mempercepat perbaikan unit pembangkit yang mengalami gangguan.
Pengaturan operasi sistem juga terus dilakukan agar dampak terhadap pelanggan dapat ditekan seminimal mungkin.
“PLN terus bekerja sama melakukan percepatan pemulihan, mengoptimalkan pasokan dari pembangkit lain, serta melakukan pengaturan operasi sistem guna menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan listrik serta meminimalkan dampak kepada pelanggan,” ujarnya.
Di sisi lain, perusahaan menyadari pemadaman bergilir telah mengganggu aktivitas masyarakat. Selain rumah tangga, dampaknya juga dirasakan pelaku usaha, perkantoran hingga layanan berbasis digital yang bergantung pada pasokan listrik stabil.
Karena itu, PLN menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan dan berjanji akan terus memberikan informasi perkembangan pemulihan melalui kanal resmi perusahaan.
“PLN memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. PLN akan terus menyampaikan perkembangan kondisi sistem kelistrikan secara berkala melalui kanal resmi PLN,” tutup Annisa. (rd)
Editor : Romdani.