Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Pengamat Sebut Pemadaman Listrik Bergilir di Kaltim Berpotensi Tekan Produktivitas Ekonomi dan UMKM

Muhammad Ridhuan • Minggu, 5 Juli 2026 | 12:05 WIB
Lauhil Machfudz Zakir
Lauhil Machfudz Zakir

KALTIMPOST.ID-Pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kaltim dinilai tidak sekadar mengganggu aktivitas harian masyarakat.

Di balik padamnya aliran listrik, terdapat konsekuensi ekonomi yang berpotensi meluas apabila gangguan berlangsung dalam waktu lama.

Ketua Yayasan Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Migas Balikpapan yang juga pengamat energi Kaltim Lauhil Machfudz Zakir mengatakan listrik telah menjadi keperluan utama dalam hampir seluruh aktivitas ekonomi.

Baca Juga: Gubernur Kaltim Resmikan Rumah Produksi Bersama Pakan Ternak di Kukar, Targetkan Harga Pakan Bisa Lebih Murah 30 Persen

Karena itu, setiap gangguan pasokan secara langsung akan berdampak terhadap produktivitas masyarakat maupun pelaku usaha.

“Pada era sekarang hampir semua aktivitas bergantung pada listrik. Dari rumah tangga, UMKM sampai industri besar, semuanya terdampak ketika listrik padam. Dampaknya bukan hanya ketidaknyamanan, tetapi juga penurunan produktivitas ekonomi,” ujarnya kepada Kaltim Post, Sabtu (4/7).

Menurut Lauhil, dampak paling awal dirasakan rumah tangga. Aktivitas sederhana seperti memompa air, memasak, hingga bekerja dari rumah menjadi terganggu ketika aliran listrik terputus.

Namun, tekanan terbesar justru dirasakan pelaku usaha mikro dan kecil yang sebagian besar belum memiliki pembangkit cadangan.

“UMKM paling rentan. Penjual jus, kedai kopi, usaha makanan, penjual kue di pasar, semuanya memakai listrik. Saat listrik mati mereka otomatis berhenti berproduksi karena tidak semua memiliki genset,” katanya.

Baca Juga: Perbaikan Jalan Mahulu–Malinau Terus Berjalan, DPRD Mahulu Optimistis Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah

Kalaupun memiliki genset, lanjut dia, pelaku usaha harus menanggung biaya operasional yang jauh lebih tinggi dibanding menggunakan listrik dari PLN.

“Kalau sudah memakai genset, berarti harus membeli BBM. Biaya operasional naik. Ketika biaya naik, pilihan pengusaha biasanya hanya dua, menanggung kerugian atau menaikkan harga jual. Ujung-ujungnya masyarakat sebagai konsumen juga yang terdampak,” ujarnya.

Menurut Lauhil, efek ekonomi tersebut mungkin belum terlalu terasa apabila pemadaman hanya berlangsung dalam waktu singkat. Namun, apabila kondisi berlarut hingga lebih dari sebulan, dampaknya mulai memengaruhi arus kas pelaku usaha.

“Kalau hanya beberapa hari mungkin masyarakat masih bisa menyesuaikan. Tetapi kalau sudah lebih dari sebulan, mulai terasa pada pembukuan usaha. Pendapatan menurun sementara biaya operasional bertambah,” katanya. (rd)

Editor : Romdani.
#Kutai Barat #pemadaman listrik #batu bara #STT Migas Balikpapan #pelaku umkm