Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Bukan Hasil Paksaan Orang Tua, Rahasia Daevin Raih Sederet Medali Internasional Bermula dari Usia 6 Bulan

Raden Roro Mira Budi Asih • Kamis, 9 Juli 2026 | 20:22 WIB
DUKUNGAN PENUH: Daevin Halbert Lius diapit kedua orang tuanya, Welly Lius dan Melinda Tandrin. Pasangan ini menerapkan pola asuh yang berimbang antara memfasilitasi mentor belajar pilihan anak dan menjaga waktu santai di akhir pekan. (IST)
DUKUNGAN PENUH: Daevin Halbert Lius diapit kedua orang tuanya, Welly Lius dan Melinda Tandrin. Pasangan ini menerapkan pola asuh yang berimbang antara memfasilitasi mentor belajar pilihan anak dan menjaga waktu santai di akhir pekan. (IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Prestasi yang diraih Daevin Halbert Lius di berbagai kompetisi internasional bukan hadir begitu saja. Di balik sederet medali yang kini memenuhi rumahnya, ada kebiasaan sederhana yang telah dimulai bahkan sebelum dia genap berusia dua tahun, yakni mendengarkan ibunya membacakan buku setiap hari.

Melinda Tandrin masih mengingat rutinitas itu dengan jelas. Sejak Daevin berusia sekitar enam bulan, dia selalu meluangkan waktu membacakan buku untuk putra sulungnya. “Setiap hari saya bacakan buku. Saya tunjukkan huruf-hurufnya,” kenang ibu dua anak itu.

Kebiasaan perlahan membuahkan hasil yang bahkan membuat kedua orang tuanya terkejut. Sebelum berusia dua tahun, Daevin sudah mulai mampu mengeja dan membaca kata-kata sederhana. “Saya juga kaget!” ujar Melinda.

Namun menurut Melinda, kemampuan membaca bukanlah tujuan utama. Yang ingin dia bangun sejak awal adalah kebiasaan mencintai buku dan belajar. Memasuki kelas IV sekolah dasar, bakat Daevin mulai terlihat saat sekolah merekomendasikannya mengikuti berbagai kompetisi. Orang tuanya pun mencari mentor yang dinilai mampu mengembangkan potensinya.

Baca Juga: Harumkan Nama Kaltim, Siswa Samarinda Daevin Halbert Lius Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia ke Final Olimpiade Bahasa Inggris Dunia di Italia

“Kami merasa anak ini perlu diarahkan. Akhirnya kami mencari mentor yang memang bisa membimbing dia lebih jauh,” katanya. Pendampingan tidak berhenti pada satu bidang. Ketika Daevin mulai menunjukkan ketertarikan pada bahasa inggris, orang tuanya kembali mencarikan pengajar yang sesuai.

Bagi keluarga ini, tugas orang tua bukan menentukan masa depan anak, melainkan membuka jalan ketika anak sudah menemukan minatnya. “Kami tidak pernah memaksa dia harus ikut lomba tertentu. Justru dia yang sering minta ikut,” sambung sang suami, Welly Lius.

Bahkan, daftar kompetisi yang akan diikuti sepanjang tahun lebih sering disusun berdasarkan keinginan Daevin sendiri. Orang tua kemudian membantu mengatur jadwal agar tidak berbenturan dengan sekolah maupun kegiatan keluarga. Meski agenda perlombaan padat, keseimbangan tetap menjadi perhatian utama. Akhir pekan dimanfaatkan untuk berolahraga, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar menikmati waktu di rumah.

“Kami tetap jaga supaya dia tetap olahraga, tetap ada family time. Jangan sampai semua waktunya habis hanya untuk belajar,” lanjut Melinda. Daevin tidak menganggap belajar sebagai beban. Baginya, para mentor adalah teman berdiskusi yang membuat proses belajar terasa menyenangkan. Di tengah anggapan bahwa prestasi anak selalu lahir dari tekanan orang tua, kisah keluarga ini justru menunjukkan hal berbeda. Orang tua hadir sebagai pendamping, sementara kemauan belajar datang dari diri sang anak.

“Kami hanya memfasilitasi. Jalannya tetap dia yang memilih,” kata Melinda. Kini, ketika Daevin bersiap membawa nama Indonesia ke panggung dunia, keluarga itu percaya bahwa keberhasilan bukan semata diukur dari banyaknya medali. Jauh lebih penting, mereka ingin menjaga rasa ingin tahu yang sejak kecil tumbuh melalui halaman demi halaman buku yang dulu dibacakan setiap malam. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Daevin Halbert Lius #Prestasi internasional anak Kaltim #pelajar samarinda #Final World Hippo English Language Olympiad 2026 #tips parenting