Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Bukan Zamannya Uji Mental! Praktisi Pendidikan Kaltim Tegaskan MPLS 2026 Wajib Kuatkan Psikis Siswa dari Cyberbullying

Eko Pralistio • Minggu, 12 Juli 2026 | 20:58 WIB
Praktisi pendidikan Kaltim, Abdul Rozak Fahrudin. (IST)
Praktisi pendidikan Kaltim, Abdul Rozak Fahrudin. (IST)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Tahun ajaran baru 2026/2027 segera dimulai. Bersamaan dengan itu, ribuan siswa baru akan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), agenda yang selama ini identik dengan hari-hari pertama di sekolah. Namun, di balik rutinitas tahunan tersebut, muncul tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun lalu.

Praktisi pendidikan Kaltim, Abdul Rozak Fahrudin menilai, MPLS masa kini tak cukup hanya menjadi ajang mengenalkan ruang kelas, guru, maupun tata tertib sekolah. Lebih dari itu, orientasi siswa baru disebut harus menjadi momentum membangun rasa aman, karakter, sekaligus kesiapan mental peserta didik menghadapi ekosistem pendidikan yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital.

"Anak-anak datang ke sekolah bukan lagi dengan pengalaman yang sama seperti generasi sebelumnya. Mereka tumbuh bersama media sosial, gawai, dan arus informasi yang sangat cepat. Di sisi lain, mereka juga lebih rentan terhadap perundungan siber, tekanan psikologis, hingga krisis kesehatan mental," kata Rozak, kepada Kaltim Post, Minggu (12/7).

Rozak berpandangan, citra MPLS sebagai ajang perpeloncoan memang perlahan ditinggalkan setelah pemerintah menerbitkan Permendikbud Nomor 18 Tahun 2016 yang melarang segala bentuk kekerasan maupun senioritas dalam kegiatan pengenalan lingkungan sekolah. Namun, berakhirnya praktik perpeloncoan bukan berarti tantangan MPLS ikut selesai.

Baca Juga: Anak Anggota DPRD Kaltim Diduga Lolos Jalur Afirmasi Warga Miskin di SMAN 1 Samarinda, Disdikbud Buka Suara

Tantangan pendidikan disebutnya justru bergeser. Sekolah masa kini dituntut menciptakan lingkungan yang membuat siswa merasa diterima sejak hari pertama. Sebab, pengalaman awal tersebut akan memengaruhi cara peserta didik memandang sekolah selama beberapa tahun ke depan.

"MPLS bukan lagi soal menguji mental siswa. Yang dibutuhkan sekarang justru bagaimana sekolah menguatkan mental mereka," ujarnya. Karena itu, Rozak mendorong sekolah menyusun materi MPLS yang lebih kontekstual. Selain memperkenalkan lingkungan sekolah, kegiatan juga perlu memuat pendidikan karakter, pencegahan perundungan, literasi digital, kesehatan mental, hingga pengenalan layanan bimbingan konseling.

Literasi digital, misalnya, dinilai menjadi materi yang semakin penting di tengah masifnya penggunaan media sosial dan kecerdasan buatan (AI). Siswa baru disebut perlu memahami cara memilah informasi, mengenali hoaks, menjaga etika bermedia sosial, hingga menyadari bahwa jejak digital dapat memengaruhi masa depan mereka.

Di sisi lain, pendidikan anti perundungan juga tak cukup berhenti pada penyampaian materi di ruang kelas. Sekolah, kata Rozak, harus memastikan tersedia mekanisme pelaporan yang mudah diakses serta membangun budaya saling menghargai antar siswa.

Selain itu, Rozak mendorong agar pengenalan ekstrakurikuler dikemas lebih interaktif sehingga siswa memiliki kesempatan menemukan minat dan bakatnya sejak awal. Sebab, aktivitas positif di luar kelas menjadi salah satu cara membangun keterikatan siswa dengan sekolah.

Baca Juga: Jelang Paripurna Hak Angket Gubernur Rudy Mas'ud, Pakar Hukum Unmul Wanti-Wanti DPRD Kaltim Jangan Modal Viral

"Kalau sejak awal anak merasa memiliki tempat untuk berkembang, semangat belajarnya juga akan tumbuh lebih cepat," katanya.

Rozak menegaskan, keberhasilan MPLS tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keterlibatan orang tua juga diperlukan melalui komunikasi yang terbuka selama masa orientasi berlangsung.

"Harapan orang tua sebenarnya sederhana, anak pulang dari sekolah membawa cerita bahagia, bukan pengalaman yang menimbulkan trauma. Pendidikan tidak bisa hanya diserahkan kepada sekolah. Perlu kolaborasi antara guru dan keluarga," ujarnya.

Sebab, ukuran keberhasilan MPLS bukan ditentukan oleh meriahnya kegiatan atau banyaknya agenda yang digelar. Yang lebih penting adalah apakah siswa mampu pulang dengan rasa percaya diri, merasa diterima, dan yakin bahwa sekolah merupakan ruang yang aman untuk belajar. "Sebab, pendidikan selalu dimulai dari rasa aman. Ketika seorang anak merasa dihargai sejak hari pertama, proses belajar akan tumbuh dengan sendirinya," pungkasnya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#MPLS 2026 #SPMB 2026 #mpls #samarinda #tahun ajaran baru