KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Lorong-lorong Mal Lembuswana kini tak lagi seramai beberapa tahun lalu. Deretan kios yang masih buka lebih banyak dihuni penyewa lama yang memilih bertahan dibanding pelaku usaha baru yang datang.
Di balik etalase yang masih menyala, ada cerita tentang usaha yang terus berjalan, tetapi dengan ruang gerak yang semakin sempit. Cerita itu datang dari Hartati, 36 tahun, warga Samarinda.
Selama hampir satu dekade, dia mengelola Butik Simanis Madu di lantai satu Mal Lembuswana. Ukuran kiosnya hanya sekitar 3 x 3 meter. Namun dari ruang kecil itulah dia menggantungkan penghasilan keluarga.
Menurut Hartati, penurunan aktivitas mal baru benar-benar terasa sepanjang 2026. Dua tahun sebelumnya masih tergolong normal. "Kalau 2024 masih bagus, 2025 juga masih bagus. Mulai pertengahan 2026 baru terasa sepi," ujarnya, Rabu (29/7).
Penurunan jumlah pengunjung segera berpengaruh pada omzet. Jika sebelumnya penjualan dapat menyentuh sekitar Rp 40 juta per bulan, kini pendapatan tokonya tinggal sekitar Rp24 juta. Sebulan sebelumnya masih berada di kisaran Rp 31 juta, lalu kembali turun.
Baca Juga: Mal Lembuswana Kembali ke Pemprov Kaltim, Pengunjung Minta Fasilitas Dibenahi dan Dipermodern
Penurunan omzet itu tidak diikuti berkurangnya beban usaha. Justru biaya tetap harus dibayarkan penuh setiap bulan. Hartati menjelaskan, saat masih menempati kios bagian depan, biaya sewa mencapai sekitar Rp11,3 juta per bulan di luar tagihan listrik. Namun kewajiban lain tetap berjalan.
Salah satu yang dia soroti adalah penerapan denda keterlambatan pembayaran sewa. Kata dia, penyewa dikenai denda sebesar 11 persen apabila pembayaran melewati jatuh tempo setiap tanggal 15. Dalam kondisi usaha yang sedang lesu, kebijakan tersebut dinilai semakin mempersempit ruang bernapas pelaku usaha.
"Kalau situasinya seperti sekarang, seharusnya ada kebijakan yang lebih meringankan," katanya. Persoalan lain yang dirasakan penyewa bukan hanya berkaitan dengan biaya operasional. Menurut Hartati, isu mengenai rencana penutupan Mal Lembuswana yang sempat beredar di media sosial selepas Lebaran ikut memengaruhi perilaku konsumen. Dia mengaku hampir setiap hari mendapat pertanyaan serupa dari calon pembeli yang datang.
"Mbak, benar ya mal ini mau ditutup," celetuknya mengumpamakan pembeli. Nah, pertanyaan itu menggambarkan satu hal, kepercayaan masyarakat terhadap Lembuswana mulai goyah.
Ketika calon pengunjung percaya sebuah pusat perbelanjaan akan berhenti beroperasi, mereka cenderung memilih tempat lain untuk berbelanja. Dia meyakini kabar tersebut menjadi salah satu faktor yang mempercepat penurunan omzet tokonya.
Baca Juga: Didirikan 5 Meter dari Pemakaman, Lokasi Koperasi Merah Putih Sempaja Barat Disorot Warga
Di tengah situasi itu, bertahan menjadi pilihan yang tidak mudah. Hartati mengaku beberapa kali mempertimbangkan menutup usahanya. Namun keputusan itu selalu dia urungkan.
"Saya sudah beberapa kali berpikir keluar. Sudah hampir keluar, tapi dipertimbangkan lagi." Agar usaha tetap berjalan, dia mengandalkan pemasukan dari toko lain yang dimilikinya di Big Mall Samarinda. Penjualan dari toko tersebut menjadi penyangga ketika pendapatan di Lembuswana tidak mampu menutup biaya operasional.
Nah, Hartati berharap, pergantian pengelola Mal Lembuswana dari pihak swasta kepada pemerintah menjadi momentum untuk mengubah keadaan. Tidak muluk-muluk. Dia berharap kebijakan yang memberi ruang bagi penyewa untuk bertahan, mulai dari evaluasi tarif sewa hingga penyelenggaraan kegiatan yang mampu menarik kembali pengunjung.
Dia juga berharap pemerintah segera meluruskan isu penutupan mal yang sempat beredar luas. "Yang paling penting sekarang isu itu diluruskan. Jangan sampai masyarakat terus percaya Mal Lembuswana akan ditutup, karena akhirnya orang takut datang." (riz)
Editor : Muhammad Rizki