Harga Minyak Dunia Kembali Naik ke US$84,46 per Barel, Selat Hormuz Belum Dibuka Bikin Pasar Waswas

Dwi Puspitarini • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 11:14 WIB
kapal tanker minyak di iran
Ilustrasi. Harga minyak naik lagi di tengah ketidakpastian Selat Hormuz. Pasar menunggu bukti pembukaan jalur pelayaran strategis tersebut. (foto: Getty Images)

KALTIMPOST.ID - Harga minyak dunia kembali naik pada perdagangan Senin (10/8) karena ketidakpastian pembukaan Selat Hormuz masih membayangi pasar energi global.

Minyak mentah Brent naik 91 sen atau 1,09 persen menjadi US$84,46 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) menguat 61 sen atau 0,78 persen menjadi US$78,79 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga kedua minyak acuan itu anjlok lebih dari 7 persen pada pekan sebelumnya.

Pasar sebelumnya berharap adanya kesepakatan antara Iran dan Oman dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Namun, harapan itu belum sepenuhnya terwujud. Iran menyebut pembicaraan mengenai jalur pelayaran baru dengan Oman telah memasuki tahap akhir, tetapi pembukaan Selat Hormuz masih bergantung pada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Haaland Mendadak Jadi Pacar Cemburuan, Tegur Michele Morrone Saat Dekat dengan Isabel

Selat Hormuz Belum Dibuka, Pasar Masih Menunggu Kepastian

Mengutip Reuters, ketidakpastian mengenai kapan kapal dapat kembali melintasi Selat Hormuz membuat pelaku pasar masih berhati-hati. Jalur tersebut memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia karena sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut.

Iran pada Minggu (9/8) menyatakan kesepakatan dengan Oman mengenai jalur pelayaran baru berada dalam "fase final". Meski demikian, Teheran menegaskan pembukaan Selat Hormuz baru dapat dilakukan setelah Washington memenuhi sejumlah persyaratan.

Salah satu tuntutan Iran adalah pemberian kompensasi atas serangan besar-besaran yang dilakukan AS. Kondisi tersebut membuat pasar belum dapat memastikan kapan lalu lintas kapal tanker akan kembali normal.

Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengatakan pelaku pasar masih membutuhkan bukti nyata sebelum menganggap risiko gangguan pasokan telah berkurang.

"Para pedagang telah terbiasa dengan sifat negosiasi yang naik-turun dan menunggu bukti nyata, seperti pergerakan kapal tanker yang terverifikasi atau kesepakatan resmi, sebelum kembali mengurangi premi risiko," kata Waterer, dilansir dari CNN yang dikutip dari Reuters, Senin (10/8/2026).

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan Iran dan AS saat ini tidak melakukan pembicaraan. Menurutnya, Teheran tidak akan memulai negosiasi selama Washington masih dianggap melanggar kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni.

Serangan ke Fasilitas Minyak Tambah Kekhawatiran Pasokan

Kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak juga meningkat setelah sebuah fasilitas minyak Arab Saudi dilaporkan menjadi sasaran serangan pada akhir pekan.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran menyatakan telah menyerang kilang Jazan milik Saudi Aramco pada Minggu. Serangan tersebut terjadi dua hari setelah Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan dengan Turki dan Pakistan.

Situasi tersebut menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, terutama ketika konflik antara AS-Israel dan Iran masih berlangsung.

Risiko gangguan terhadap pengiriman minyak juga dirasakan perusahaan energi Uni Emirat Arab, ADNOC. Perusahaan tersebut menyatakan 15 kapal miliknya telah diserang saat melintasi Selat Hormuz sejak konflik dimulai.

Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga minyak pada Senin menunjukkan bahwa pasar masih memperhitungkan risiko terhadap pasokan energi global. Meskipun terdapat perkembangan positif terkait pembicaraan Iran dan Oman, pelaku pasar tampaknya masih menunggu bukti konkret berupa kesepakatan resmi dan kembalinya pergerakan kapal tanker sebelum risiko pasokan dianggap mereda.***

Editor : Dwi Puspitarini
selat hormuz harga minyak dunia harga minyak brent konflik timur tengah harga minyak hari ini