KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – PT Cipta Sumina Indah Satresna (CSIS) masih membuka peluang untuk kembali mengelola Mal Lembuswana Samarinda. Perusahaan yang sebelumnya mengelola mal tersebut selama sekitar 30 tahun itu mengaku siap mengikuti proses beauty contest apabila Pemprov Kaltim kembali membuka peluang kerja sama pengelolaan.
Direktur Utama PT CSIS Edwar Marwin Sinanta mengatakan, pihaknya akan menawarkan konsep berbeda jika kembali dipercaya mengelola Mal Lembuswana. Konsep tersebut tidak lagi sekadar pusat perbelanjaan, tetapi diarahkan menjadi kawasan lifestyle.
“Pasti kita akan coba. Pasti konsep berbeda. Nanti kita siapin semua. Kebetulan saya banyak menangani properti Jakarta, jadi kita pengennya bawa konsep Jakarta ke Samarinda,” kata Edwar, Senin (10/8). Menurutnya, perubahan konsep diperlukan lantaran kondisi Mal Lembuswana saat ini sudah cukup berusia.
Bangunan tersebut dinilai masih membawa konsep pusat perbelanjaan lama, sementara kebutuhan dan karakter tenant terus berubah. Karena itu, jika CSIS kembali dipercaya mengelola mal tersebut, revitalisasi menjadi salah satu agenda utama. “Oh, pasti kita lakukan facelift lah, termasuk dari fasad dan juga dalamnya,” ujarnya.
Edwar menyebut konsep yang disiapkan nantinya akan menggabungkan area mal dengan ruang outdoor dan semi-outdoor. Selain aktivitas perdagangan, kawasan tersebut akan diisi lebih banyak hiburan dan atraksi.
“Jadi dari segi mal dapat, tapi ada segi outdoornya juga, semi outdoor. Jadi banyak sekali hiburan dan juga atraksi yang akan ada,” katanya. Salah satu referensi yang disebut Edwar adalah konsep Sentra Park di Jakarta. Konsep tersebut dinilai dapat menjadi salah satu contoh yang diterapkan untuk pengembangan Mal Lembuswana.
Baca Juga: Persiapkan Beauty Contest Investor, PT KMBS Fokus Amankan Tenant Existing Mal Lembuswana
Selain itu, pihaknya juga melihat pembangunan hotel sebagai bagian penting dalam pengembangan kawasan tersebut. Lokasi Mal Lembuswana yang strategis dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kawasan terpadu.
“Hotel itu juga menjadi prioritas, saya rasa. Karena dengan lahan dan lokasi strategis ini, hotel kan tidak banyak juga di Samarinda,” ucapnya. Edwar menilai hotel minimal bintang empat atau lima dibutuhkan apabila Mal Lembuswana dikembangkan menjadi kawasan perdagangan dan lifestyle berskala besar. Hotel tersebut nantinya dapat mengakomodasi tamu yang datang dari luar pulau.
“Saya rasa sebagai mal yang nantinya akan jadi paling besar, paling bagus di Samarinda ini perlu minimum hotel bintang 4 atau 5 lah untuk mengakomodasi semua tamu-tamu yang datang dari luar pulau,” katanya.
Baca Juga: Bakal Dirombak Jadi Kawasan Terpadu, Ketua DPRD Kaltim Wacanakan Hotel Bintang 4 di Mal Lembuswana
Sebelumnya, setelah sekitar 30 tahun dikelola CSIS melalui skema Hak Guna Bangunan (HGB), Mal Lembuswana resmi kembali ke Pemprov Kaltim pada Jumat (7/8). Pada masa transisi, pengelolaan mal diserahkan kepada PT Kaltim Melati Bhakti Satya (KTMBS).
Selain CSIS, terdapat investor lain yang dikabarkan berminat mengikuti proses beauty contest pengelolaan Mal Lembuswana. Salah satunya adalah Balikpapan Super Block (BSB). Hal itu dibenarkan oleh Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas'ud, yang menyebut bahwa ada beberapa investor yang sudah menunjukan minatnya untuk mengelola mal legendaris tersebut.
"Saya mendengar memang ada beberapa pihak yang menunjukkan minat. Salah satu nama yang sempat saya dengar adalah Balikpapan Super Block (BSB)," ucapnya. Namun, pihaknya mengimbau untuk tidak buru-buru dalam mengambil keputusan siapa investor yang pantas mengelola.
Proses seleksi atau beauty contest yang diselenggarakan pemerintah nantinya bisa melihat bagaimana konsep pengembangan mal yang ideal. "Yang terpenting, pengembangan kawasan ini harus terintegrasi dan mampu memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi daerah," ujarnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki