KALTIMPOST.ID-Pelaksanaan program Gratispol sektor kesehatan di Kaltim dinilai perlu diiringi penguatan kualitas pelayanan dan integrasi data kepesertaan.
Tingginya cakupan jaminan kesehatan dinilai belum cukup menjadi ukuran keberhasilan apabila akses dan mutu pelayanan masih menghadapi persoalan.
Pengamat kesehatan masyarakat Universitas Mulawarman (Unmul) Sumarni mengatakan, Gratispol merupakan bentuk komitmen Pemprov Kaltim dalam memberikan jaminan kesehatan kepada masyarakat.
Program tersebut dapat mengurangi kekhawatiran warga terhadap biaya ketika membutuhkan pelayanan medis.
Namun, menurutnya, evaluasi tidak boleh berhenti pada persentase kepesertaan. Kualitas pelayanan yang diterima masyarakat juga perlu menjadi indikator utama.
“Yang patut kita soroti bersama adalah kendali mutunya, bagaimana good corporate dan good coverage benar-benar dijalankan,” kata Sumarni, Sabtu (15/8).
Penguatan pelayanan kesehatan tingkat pertama juga dinilai penting. Sumarni mendorong puskesmas semakin diperkuat sebagai garda terdepan dengan tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga menjalankan fungsi promotif dan preventif.
Edukasi kesehatan kepada masyarakat, menurutnya, perlu diperluas agar jaminan pembiayaan melalui Gratispol maupun BPJS Kesehatan tidak hanya dimanfaatkan ketika warga sudah sakit.
“Kalau boleh, layanan yang di-cover melalui program pemerintah Gratispol ataupun BPJS itu hanya sebagai pintu belakang, artinya sebagai pilihan akhir. Bagaimana kita semua berkolaborasi untuk memperkuat kendali mutu dan transparansi biaya,” ujarnya.
Tantangan lainnya adalah ketersediaan sumber daya manusia kesehatan. Sumarni menyebut Kaltim masih menghadapi kekurangan tenaga kesehatan, salah satunya dokter spesialis.
Untuk mencari solusi terhadap persoalan tersebut, pihaknya tengah berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) dalam mengembangkan naskah akademik. “SDM juga kita masih sangat kekurangan, salah satunya dokter spesialis,” jelasnya.
Selain mutu dan ketersediaan tenaga medis, integrasi data menjadi perhatian. Sumarni mengingatkan Pemprov Kaltim perlu memastikan data penerima Gratispol tersinkronisasi dengan kepesertaan BPJS Kesehatan.
“Jangan sampai ada tumpang tindih data atau anomali. Ketika sudah masuk dalam konteks kepesertaan BPJS, apakah kemudian tidak menjadi data ganda ketika masuk dalam konteks Gratispol,” katanya.
Persoalan kepesertaan, lanjut dia, masih ditemukan di lapangan. Dalam kegiatan pembelajaran lapangan di Kutai Kartanegara, pihaknya menemukan masyarakat yang menghadapi kendala terkait status kepesertaan BPJS Kesehatan.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya kolaborasi pemerintah, BPJS Kesehatan, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya melalui pendekatan pentahelix.
Sinergi diperlukan agar jaminan kesehatan tepat sasaran sekaligus memberikan pelayanan berkualitas.
Sumarni menambahkan, upaya tersebut harus dilakukan di tengah tantangan efisiensi dan keterbatasan fiskal.
Persoalan anggaran, menurutnya, bukan hanya dihadapi Kaltim, tetapi juga menjadi tantangan secara nasional.
Karena itu, keberlanjutan Gratispol kesehatan perlu ditopang tata kelola yang baik, data kepesertaan yang akurat, SDM memadai, serta penguatan layanan promotif dan preventif. (rd)
Editor : Romdani.