KALTIMPOST.ID-Kemarau panjang mulai berdampak serius terhadap pelayanan air bersih di ibu kota Mahakam Ulu (Mahulu).
Distribusi air di Ujoh Bilang kini berhenti total karena pasokan air baku tidak mencukupi kebutuhan instalasi.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mahulu Didik Subagya mengatakan, persoalan utama berada pada ketersediaan sumber air.
Kondisi itu disampaikannya saat ditemui dalam kegiatan Taptu dan Pawai Obor di Lapangan Cor Ujoh Bilang, Minggu (16/8). “Berhenti total, karena catu airnya tidak ada,” ujar Didik.
Baca Juga: Kemerdekaan yang Dimulai dari Ruang Kelas
Sistem penyediaan air saat ini bergantung pada ketersediaan air baku yang terlebih dahulu masuk ke penampungan. Setelah tertampung, air baru dialirkan kepada masyarakat menggunakan sistem gravitasi.
“Kalau tekanan airnya ada, baru dia masuk ke penampungan. Kalau sudah tertampung, baru distribusi pakai gravitasi, tidak ada pakai pompa kami,” jelasnya.
Untuk mencari solusi jangka panjang, PUPR telah menyiapkan desain pengembangan sumber air baku dengan menggabungkan sumber di Ujoh Bilang dan kawasan Long Melaham (Lome).
Didik menyebut kapasitas gabungan kedua sumber tersebut diperkirakan sekitar 47 meter kubik per detik.
Sementara kebutuhan Ujoh Bilang dan sekitarnya dalam 20 tahun mendatang, dengan memperhitungkan pertumbuhan kebutuhan sekitar enam persen, diproyeksikan berkisar 35–37 meter kubik per detik.
Dengan proyeksi tersebut, sumber air gabungan dinilai memiliki kapasitas yang cukup sekaligus menyediakan cadangan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: PAMA Salurkan Beasiswa GOTA 2026, Siswa SMA hingga Mahasiswa S-1 Dapat Dukungan Pendidikan
Namun, pembangunan sumber air di Lome hingga kini belum terealisasi. Pemangkasan anggaran pemerintah pusat menjadi salah satu kendala. “Di Lome ini kan belum kita bangun, karena anggaran kementerian terpotong,” ungkapnya.
Pembangunan sumber Lome juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap Sungai Mahakam.
Menurut Didik, pemanfaatan air Sungai Mahakam membutuhkan proses pengolahan lebih banyak, sementara hasil pengujian laboratorium disebut belum memenuhi persyaratan.
“Nanti kita mulai sedikit-sedikit menghindar dari air baku Mahakam. Karena untuk air Mahakam itu perlakuannya banyak dan hasil uji labnya tidak lolos. Itu makanya kita harus beralih air bakunya,” jelasnya.
Penggunaan sumber baru juga dinilai lebih efisien karena distribusi dapat memanfaatkan gravitasi tanpa sepenuhnya bergantung pada pompa.
Meski telah masuk dalam perencanaan, Didik belum dapat memastikan waktu pembangunan sumber air Lome.
Persoalan tersebut telah disampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama DPRD Mahulu agar mendapatkan prioritas anggaran. “Saya sudah di RDP Dewan, sudah minta, karena itu jadi prioritas,” ujarnya.
Di tengah persoalan air bersih, pemerintah juga memperkuat sistem kelistrikan Mahulu. Tiga mesin pembangkit masing-masing berkapasitas 1 megawatt akan ditambahkan sehingga kapasitas listrik diproyeksikan mencapai sekitar 5 megawatt.
Tambahan daya diperlukan untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan masyarakat, perkantoran, dan fasilitas lainnya.
Setelah penguatan kelistrikan berjalan, penyediaan air bersih menjadi pekerjaan penting berikutnya.
Didik menilai pembangunan sumber air Lome menjadi kunci agar gangguan distribusi akibat kemarau tidak terus berulang. “Kalau yang proyek Lome ini sudah terbangun, untuk air bakunya cukup,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.