Usia 14 Tahun Baru Masuk SD, Sekolah Rakyat Terapkan Sistem Multi Entry Multi Exit

Raden Roro Mira Budi Asih • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:38 WIB
ASRAMA: Seluruh siswa Sekolah Rakyat wajib mukim di sekolah. Tanpa terkecuali termasuk siswa SD jenjang awal.
ASRAMA: Seluruh siswa Sekolah Rakyat wajib mukim di sekolah. Tanpa terkecuali termasuk siswa SD jenjang awal.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Masuk sekolah dasar pada usia tujuh tahun adalah hal lazim. Namun, di Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda, siswa berusia belasan tahun yang baru mengenal bangku sekolah bukan pemandangan yang asing.

Kepala SD Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Pahrijal menyebut terdapat siswa yang usianya sudah 14 tahun tetapi baru masuk kelas 1 SD. Kondisi tersebut membuat sekolah tidak bisa menerapkan pola penempatan kelas seperti sekolah reguler. “Baru belajar baca,” kata Pahrijal.

Oleh sebab itu, setiap siswa baru terlebih dahulu menjalani asesmen. Guru melihat usia sekaligus kemampuan akademik sebelum menentukan posisi belajar yang paling sesuai.

Pahrijal mengatakan, siswa dengan usia lebih tinggi tetapi kemampuan akademiknya masih rendah tidak serta-merta ditempatkan di kelas awal. Sekolah mempertimbangkan usia agar siswa tidak menghabiskan waktu terlalu lama untuk menyelesaikan pendidikan dasar.

Baca Juga: Penumpang Pesawat di Balikpapan Tembus 337 Ribu, Kedatangan dari Luar Negeri Melonjak 131 Persen

“Kalau memang kemampuan akademiknya payah, terus umurnya sudah tinggi, ya enggak bisa kita taruh di kelas satu atau di kelas dua. Misal kelas 1 SD umur 14, dia perlu belajar 6 tahun. Akan sangat lama dia sekolah,” ujarnya.

Sebaliknya, siswa yang sudah mampu membaca, menulis, dan berhitung tetapi usianya lebih tinggi dapat ditempatkan pada kelas yang lebih sesuai. Kekurangan kemampuan tertentu kemudian dikejar melalui penguatan tambahan.

Untuk siswa yang belum pernah bersekolah, targetnya pun dibuat realistis. Sekolah tidak semata mengejar kesamaan capaian dengan teman sebaya, tetapi memastikan kemampuan dasar benar-benar dikuasai.

“SD ini minimal bisa baca, bisa tulis seperti itu sudah selesai. Pengetahuan dasar lah,” kata Pahrijal. Pada siswa usia 14 tahun tersebut, dimasukkan ke jenjang kelas 5 SD. Tetap mengikuti belajar seperti biasa, namun penguatan atau ekstra kelas dilakukan di luar jam sekolah.

Baca Juga: Tiga Racikan Nasi Padang di Kecapi Cafe & Resto Samarinda, Mana Paling Menggoda?

Pola tersebut sejalan dengan konsep pendidikan Sekolah Rakyat yang menggunakan prinsip multi entry dan multi exit. Kepala SMA Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda Rabiatul Adawiyah menjelaskan, usia siswa memang dapat sangat beragam.

“Tidak pernah sekolah sebelumnya. Ada juga kemudian SMA-nya ada usia 19 tahun,” ujar Rabiatul. Kurikulum yang digunakan tetap mengacu pada kurikulum sekolah reguler. Perbedaannya terletak pada capaian pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa.

“Kurikulumnya sama, acuannya sama cuma tuntutannya capaiannya diturunkan dikit,” jelas Rabiatul. Dalam praktiknya, satu rombongan belajar juga tidak selalu identik dengan satu tingkat kelas seperti di sekolah reguler. Pada masa rintisan, satu rombel dapat dihuni siswa dari beberapa tingkat yang kemampuan belajarnya berdekatan.

Model tersebut menuntut guru mampu mengelola pembelajaran dengan kebutuhan yang berbeda dalam satu ruang. Guru harus memberikan tugas sesuai tingkat kemampuan masing-masing siswa.

Konsep multi entry dan multi exit juga membuka kemungkinan siswa bergerak lebih cepat setelah kemampuan mereka berkembang. Pembelajaran tidak sepenuhnya bergantung pada usia kronologis.

Sofyan Agus selaku Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial dan Penanganan Fakir Miskin Dinas Sosial Samarinda yang menangani Sekolah Rakyat menjelaskan bahwa konsep tersebut nantinya akan didukung pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS). Setiap siswa dibekali laptop untuk mendukung proses belajar.

Baca Juga: Mooncake Mercure-Ibis Samarinda Tak Sekadar Tradisi, Hadirkan Lima Varian Rasa

“Jadi meskipun anak-anak hari ini dia terlambat masuk, tapi kalau dia pembelajaran dengan kurikulum LMS dia bisa mengejar tuh bahkan bisa lebih cepat selesai,” kata dia.

Namun, penerapan sistem digital itu belum berjalan optimal karena infrastruktur sekolah masih dalam tahap pembangunan dan penataan. Di sisi lain, asesmen tidak berhenti ketika siswa diterima. Kemampuan mereka terus dipantau untuk menentukan penguatan yang diperlukan.

Pahrijal menilai asesmen menjadi penting karena sekolah menemukan kemampuan siswa yang sangat beragam. Ada yang hanya perlu diperkuat kemampuan menulis, sementara siswa lainnya harus mengejar kemampuan membaca dan berhitung dari dasar. “Salah satu fungsi asesmen itu kan untuk mengetahui di mana titik penguatan yang perlu kita berikan perhatian khusus,” ujarnya.

Dengan sistem tersebut, Sekolah Rakyat berupaya menghindari pola pendidikan seragam. Siswa tidak dipaksa mengikuti satu jalur hanya karena usia, tetapi diarahkan berdasarkan kemampuan dan kebutuhan belajarnya.

Baca Juga: Konflik Lahan Relokasi, Warga Dua Kelurahan PPU Ancam Duduki Bandara VVIP IKN

Target akhirnya sederhana, anak yang sebelumnya tidak pernah bersekolah tetap memperoleh kemampuan dasar, kemudian memiliki jalur untuk mengejar ketertinggalannya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
sekolah rakyat kaltim Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda sistem pendidikan Sekolah Rakyat Dinas Sosial Samarinda Sekolah Rakyat Samarinda